Pigora News Jatim

PWNU Jawa Timur Gelar Mujahadah Pejuang Nahdlatul Ulama

Surabaya — Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menggelar kegiatan Mujahadah Pejuang Nahdlatul Ulama pada Ahad, 9 November 2025, mulai pukul 19.00 hingga 00.00 WIB. Acara ini akan berlangsung di Gedung Hoof Bestuur Nahdlatoel Oelama di Jalan Bubutan, Surabaya. Kegiatan mujahadah ini diikuti oleh para kiai kharismatik dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, di antaranya KH. Nurul Huda Jazuli, KH. Anwar Manshur, KH. Miftachul Akhyar, KH. Anwar Iskandar, KH. Mudatsir Badruddin, KH. Ubaidillah Faqih, KH. Abdul Ghofur, KH. Fuad Nur Hasan, KH. Abdul Hakim Mahfudz, KH. Abd. Matin Djawahir, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, KH. Abdul Adzim Kholili, KH. Agoes Ali Masyhuri, KH. Ahmad Azaim Ibrahimy Dhoifir, dan KH. Ahmad Dzulkifli Ghozali. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi warga Nahdlatul Ulama untuk meneladani semangat perjuangan para pendiri NU dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan, keislaman, dan kemanusiaan. PWNU Jawa Timur berharap, Mujahadah Pejuang Nahdlatul Ulama dapat menjadi ajang memperkuat spiritualitas, kebersamaan, serta komitmen kader dan jamaah NU dalam melanjutkan perjuangan para ulama dan pahlawan bangsa. Acara ini juga menjadi wujud syukur sekaligus refleksi perjuangan para pejuang Nahdlatul Ulama yang telah berkontribusi besar bagi kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, menyampaikan pentingnya memahami kembali sejarah perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam tausiyah kebangsaannya, Gus Kikin mengulas perjalanan panjang Resolusi Jihad dan kaitannya dengan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, serta lahirnya peringatan Hari Santri Nasional yang setiap tahun diperingati pada 22 Oktober. Gus Kikin menjelaskan bahwa penetapan Hari Santri berawal dari terbitnya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Penetapan ini menjadi bentuk penghargaan terhadap peran besar kaum santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, khususnya melalui fatwa dan Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 17 September 1945, sebulan setelah proklamasi kemerdekaan. “Resolusi jihad merupakan fatwa ulama untuk mempertahankan kemerdekaan dan melawan kedatangan pasukan sekutu yang ingin kembali menjajah Indonesia. Fatwa itu kemudian disiarkan dari surau ke surau, pesantren ke pesantren, hingga menjadi semangat perlawanan rakyat,” ujar Gus Kikin. Ia memaparkan, pada 22 Oktober 1945, para ulama dari berbagai daerah berkumpul di kantor Hoofd Bestuur Nahdlatul Oelama (kini PBNU) di Surabaya untuk merumuskan langkah perjuangan. Dari sinilah lahir Resolusi Jihad yang menyerukan kepada umat Islam untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Fatwa tersebut kemudian disiarkan melalui kantor berita Antara dan berbagai surat kabar nasional seperti Kedaulatan Rakyat dan Berita Indonesia. “Seruan jihad itu menjadi penggerak utama rakyat, terutama para santri, untuk turun ke medan pertempuran. Pekikan Allahu Akbar yang disuarakan oleh Bung Tomo di radio adalah bentuk semangat jihad yang bersumber dari fatwa KH. Hasyim Asy’ari,” jelasnya. Lebih jauh, Gus Kikin juga mengisahkan bagaimana kabar Resolusi Jihad menyebar luas ke berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa, bahkan hingga ke Garut dan Banten, meski pada masa itu belum ada alat komunikasi modern. “Ulama-ulama dari berbagai daerah telah menunggu kabar dari Surabaya. Begitu fatwa disampaikan, mereka bergerak serentak. Inilah bukti betapa kuatnya jaringan keulamaan dan semangat ukhuwah Islamiyah kala itu,” tuturnya. Dalam refleksi spiritualnya, Gus Kikin menekankan bahwa semangat jihad para ulama dan santri tidak hanya sebatas perjuangan fisik melawan penjajah, tetapi juga jihad dalam memperjuangkan ilmu, keimanan, dan akhlak. Ia mengutip hikmah dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang menggambarkan pentingnya keseimbangan antara ilmu lahir dan batin. “Kalau kita hanya berhenti pada ilmu duniawi, kita akan terhenti di dunia. Tapi kalau kita menapaki jalan ilmu hakikat, seperti yang diajarkan Nabi Khidir, kita akan sampai pada derajat ihsan,” ujarnya. Menutup tausiyahnya, Gus Kikin mengajak seluruh kader NU, santri, dan masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai perjuangan ulama terdahulu. “Resolusi jihad bukan sekadar sejarah, tetapi teladan bagi kita untuk terus menjaga persatuan, memperkuat keimanan, dan mengabdikan diri demi kemajuan Islam dan bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Gubernur Khofifah Dikukuhkan Sebagai Dewan Pembina Kehormatan Paguyuban Mas TRIP Jatim, Ajak Beri Penguatan dan Bangun Semangat Perjuangan Bagi Pemuda/ Pelajar di Jatim

SURABAYA, – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa resmi dikukuhkan sebagai Dewan Pembina Kehormatan Paguyuban Mas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur. Pengukuhan itu dilakukan dalam pembukaan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Paguyuban Mas TRIP Jatim yang digelar di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (8/11). Gubernur Khofifah dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Nomor 003/PP/PMTC/SRT/11/2025 tentang Anggota Kehormatan Paguyuban Mas Trip Jawa Timur. Secara khusus pengukuhan dilakukan dengan pemasangan pin oleh Ketua Umum Paguyuban Mas TRIP Jawa Timur Destry Damayanti. Dalam sambutannya yang sekaligus membuka resmi Muskernas, Gubernur Khofifah mengajak anggota paguyuban untuk melakukan penguatan membangun semangat perjuangan kepada generasi penerus bangsa. Tak hanya itu, keberseiringan seluruh kegiatan ini menurutnya sangat nyekrup dengan Hari Pahlawan 10 November yang bertujuan menguatkan semangat perjuangan para pahlawan. “Hari ini kita bangun penguatan semangat kejuangan menjelang Hari Pahlawan. Hari ini adalah yang sangat tepat, maka keberseiringan beragam seluruh kegiatan ini harus nyekrup. Apakah perjuangan TRIP di Surabaya maupun TRIP yang ada di Malang Juli tahun 1947,” kata Gubernur Khofifah. “Ini sesuatu yang kalau tidak kita syiarkan , khawatir, kalau bahasa pesantren itu, yazidu wa yankus, bisa bertambah dan berkurang, jadi ini pasang surut. Kalau ketemu momentum yang tepat seperti hari ini maka penguatan dari generasi ke 2, 3 dan 4, Paguyuban Mas TRIP saya rasa ini saat yang sangat tepat,” imbuhnya. Sebagai bentuk upaya nyata, Gubernur Khofifah mengajak anggota Paguyuban Mas TRIP keliling ke SMA-SMA Negeri Taruna serta ormas kepemudaan yang ada di Jawa Timur. Dengan begitu, Paguyuban Mas TRIP bisa menguatkan semangat perjuangan pada anak para siswa sekolah taruna. “Mungkin nanti ada yang berkenan melakukan kunjungan sekaligus penguatan di SMA Taruna yang ada di Jatim. Nanti bisa keliling ke sekolah, menyampaikan peran TRIP, memberikan pengetahuan kepada anak-anak di SMA Taruna,” tambahnya. “Jadi Kemendikdasmen satu bulan lalu menyampaikan, di Indonesia ini ada 11 Sekolah yang tercatat sebagai sekolah yang menyiapkan pemimpin masa depan,” lanjutnya. Dari sebelas sekolah itu, tambah Khofifah, enam dari sekolah swasta, lima dari sekolah negeri. Yang mana, kelima sekolah negeri tersebut semua dari Jawa Timur yaitu dari SMA Taruna dari Jawa Timur. “Kelima sekolah itu dari Jawa Timur. Dan semuanya dari SMA Taruna. Bedanya dengan Magelang, kalau disini misalnya di Malang mentornya, komandannya mitranya adalah Angkatan Laut. Di Kediri, Taruna Brawijaya itu Angkatan Darat, Madiun Taruna Angkasa dengan Angkatan Udara, Genteng Banyuwangi Taruna Bhayangkara dengan Kepolisian,” jelasnya. “Yang kita ingin siapkan mereka akan menjadi juru bicara ke Indonesiaan, juru bicara kenusantaraan, juru bicara kebhinekaan. Maka lewat penguatan dari Mas Trip ini nantinya akan memperkuat semangat kebangsaan serta menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda,” terangnya. “Kita harus bersama-sama bersiap bahwa kebhinekaan harus diikat dengan Pancasila, jadi tidak cukup Bhineka Tunggal Ika tetapi diikat dengan Pancasila,” katanya. Dirinya menilai, inilah berkah Indonesia yang Allah anugerahkan persatuan dan persaudaraan untuk Indonesia. Yang mana, pintunya beragam, kalau bahasa pesantren, min abwabil mutafarriqoh atau lewat pintu yang berbeda-beda tetapi tujuannya sama. Menjaga NKRI. “Bagaimana kita membangun Indonesia bisa kita lakukan melalui pintu yang beragam, profesi yang beragam,” jelasnya. “Artinya, kita masuk dari pintu yang berbeda tapi tujuannya sama membangun kebersatuan, persatuan dan persaudaraan. Kalau tidak dilakukan seperti itu pasti akan beda pendapat, menajam, meruncing dan tidak tahu cara menyelesaikannya,” imbuhnya. Menurutnya salah satu pintu tersebut adalah melalui nasab atau keturunan khususnya nasab pejuang dan bela negara. Ia meyakini, untuk membangun Indonesia kita harus terus menjahit (berjuang dibidang masing-masing) dan tidak boleh berhenti. “Maka kita ini harus terus menjahit. Kita tumbuh, berkembang, maju dan sejahtera bersama. Harus dilakukan dimana saja. Indonesia begitu luas, penduduk Jatim saat ini 42 juta lebih maka sesungguhnya ketika kami menyebut Gerbang Baru Nusantara kita bersiap untuk menjadi connecting people Indonesia barat dan timur,” pungkasnya. Sementara itu, Ketua Umum Paguyuban Mas Trip Jawa Timur Destry Damayanti mengatakan Mukernas Mas Trip tahun ini terasa lebih spesial karena berdekatan dengan Hari Pahlawan 10 November. “Penyelenggaraan ini menjadi spesial karena berdekatan dengan Hari Pahlawan 10 November. Bagaimana saat itu TRIP berjuang mempertahankan kemerdekaan, membantu TRI (Tentara Republik Indonesia) melawan Belanda meskipun dengan peralatan yang minim,” kata Destry. “Semangat perjuangan inilah yang kami ingin terus jalankan, menjalankan amanah orang tua kami, perjuangan yang diteruskan sampai ke akhir zaman mulai generasi 2,3 hingga 4,” tuturnya. Diakhir, Destry menyebut, penjajahan saat ini hadir lewat bentuknya yang lain yakni penjajahan melawan kebodohan dan kemiskinan. Untuk itu, ia mengajak generasi muda harus berani mengambil sikap dan selalu berpedoman bahwa semua yang dilakukan untuk kebaikan Indonesia tercinta. Kepala Biro Adm. Pimpinan Pulung Chausar

LMI Gelar “1000 KM Ride for Palestine 2”, Direktur Ozi Rianto : Spirit Kepahlawanan Surabaya Tak Pernah Luntur

SURABAYA – Sehari menjelang peringatan Hari Pahlawan, semangat perjuangan dan solidaritas kemanusiaan kembali bergema dari Kota Surabaya. Pada Ahad, 9 November 2025, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melepas peserta kegiatan “1000 KM Ride for Palestine 2” di Tugu Pahlawan Surabaya. Kegiatan gowes solidaritas yang digagas oleh Lembaga Manajemen Infaq (LMI) ini diikuti oleh ratusan pesepeda dari berbagai komunitas di Indonesia, termasuk peserta dari Bandung dan Banyuwangi, yang rela menempuh perjalanan jauh demi berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan untuk Palestina. Direktur Marketing dan Kemitraan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) LMI, Ozi Rianto, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini sangat relevan dengan semangat perjuangan yang lahir dari Kota Pahlawan. “Alhamdulillah hari ini terlaksana kegiatan Ride for Palestine yang juga dihadiri langsung oleh Ibu Khofifah selaku Gubernur Jawa Timur. Satu hari menjelang Hari Pahlawan, kegiatan ini menjadi simbol bahwa spirit kepahlawanan di Surabaya tidak luntur, tidak surut, dan tidak berhenti,” ujar Ozi. Ia menambahkan, kegiatan ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga bentuk kepedulian dan pernyataan sikap terhadap perjuangan rakyat Palestina. “Kegiatan ini mencerminkan kepada dunia bahwa semangat perjuangan lahir dari Kota Surabaya. LMI berdiri dekat bersama saudara-saudara kita di Palestina untuk menyuarakan keadilan dan kebersamaan bagi mereka semua, insyaAllah,” jelasnya. Dalam kegiatan tersebut, para peserta akan menempuh rute sepanjang 1000 kilometer dengan melewati tujuh etape pemberhentian, dimulai dari Tugu Pahlawan Surabaya menuju Mojokerto, dan berlanjut ke berbagai daerah lain. Ozi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. “Kami mewakili LMI mengucapkan jazakumullahu khairan katsira atas semua dukungan, support, dan semangat dari para peserta, media, sponsor, serta seluruh masyarakat yang turut berpartisipasi. Terima kasih, terima kasih, dan terima kasih,” tutupnya. Melalui Ride for Palestine 2, masyarakat Jawa Timur kembali menunjukkan bahwa semangat kepahlawanan tidak hanya diwujudkan dalam perjuangan masa lalu, tetapi juga dalam aksi nyata kepedulian terhadap sesama di masa kini. Sebelumnya diberitakan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melepas ratusan peserta Gowes Bareng (GOBAR) dalam kegiatan “1000 KM Ride for Palestine 2” yang digelar pada Ahad, 9 November 2025, pukul 06.00 WIB di Tugu Pahlawan Surabaya. Kegiatan bersepeda dengan tema solidaritas untuk Palestina ini diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen Infaq (LMI) bekerja sama dengan sejumlah komunitas pesepeda, di antaranya GX-ID, Balap Jadul Surabaya, Bike to Work, BORAC, dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah memberikan apresiasi atas semangat para peserta yang tidak hanya menyalurkan hobi bersepeda, tetapi juga mengusung misi kemanusiaan untuk membantu rakyat Palestina. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini mencerminkan kepedulian masyarakat Jawa Timur terhadap isu kemanusiaan global. Adapun rute pelepasan dimulai dari Tugu Pahlawan Surabaya, melewati Bundaran Waru, hingga menuju kota terdekat Mojokerto sebagai titik awal perjalanan menuju target 1000 kilometer. Selain diikuti oleh komunitas pesepeda dari berbagai daerah, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk media partner lokal yang turut mengabarkan semangat solidaritas tersebut.

Gubernur Khofifah Lepas Peserta “1000 KM Ride for Palestine 2” dari Tugu Pahlawan Surabaya

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melepas ratusan peserta Gowes Bareng (GOBAR) dalam kegiatan “1000 KM Ride for Palestine 2” yang digelar pada Ahad, 9 November 2025, pukul 06.00 WIB di Tugu Pahlawan Surabaya. Kegiatan bersepeda dengan tema solidaritas untuk Palestina ini diselenggarakan oleh Lembaga Manajemen Infaq (LMI) bekerja sama dengan sejumlah komunitas pesepeda, di antaranya GX-ID, Balap Jadul Surabaya, Bike to Work, BORAC, dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Khofifah memberikan apresiasi atas semangat para peserta yang tidak hanya menyalurkan hobi bersepeda, tetapi juga mengusung misi kemanusiaan untuk membantu rakyat Palestina. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini mencerminkan kepedulian masyarakat Jawa Timur terhadap isu kemanusiaan global. Adapun rute pelepasan dimulai dari Tugu Pahlawan Surabaya, melewati Bundaran Waru, hingga menuju kota terdekat Mojokerto sebagai titik awal perjalanan menuju target 1000 kilometer. Selain diikuti oleh komunitas pesepeda dari berbagai daerah, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk media partner lokal yang turut mengabarkan semangat solidaritas tersebut. Melalui Ride for Palestine 2, diharapkan muncul gerakan nyata masyarakat untuk terus menebar empati, solidaritas, dan kepedulian terhadap saudara-saudara di Palestina, sekaligus mempererat kebersamaan antar komunitas pesepeda di Jawa Timur.