BGN Perkuat Pemahaman dan Pelayanan SPPK, Mahda Tekankan Pentingnya Evaluasi Lapangan

SURABAYA – Perwakilan BGN area Jawa Timur, Mahda, menegaskan komitmen lembaganya untuk terus meningkatkan kualitas edukasi dan pelayanan di lapangan, khususnya terkait pelaksanaan Satuan Pemenuhan Pemantauan Gizi (SPPK). Hal itu disampaikan Mahda saat menghadiri penutupan forum Pelatihan bagi Pelatih atau Training of Trainers (ToT) tingkat regional yang digelar di Surabaya pada 19 November 2025 di hotel Papillio Surabaya yang menghadirkan berbagai instansi terkait, mulai dari dinas kesehatan kabupaten/kota hingga dinas di tingkat provinsi. Menurut Mahda, kegiatan semacam ini sangat penting untuk menyamakan pemahaman antarinstansi mengenai konsep dan tugas SPPK. “Dari sini setiap instansi akan lebih paham apa itu SPPK dan bagaimana kinerja SPPK di lapangan. Masukan-masukan yang disampaikan teman-teman itu bukan keluhan, tapi masukan untuk membangun agar lebih baik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbagai hambatan yang muncul di lapangan merupakan hal wajar, mengingat lembaga tersebut masih tergolong baru. “Kita ini baru satu tahun. Ibarat bayi baru lahir langsung disuruh lari, pasti tertatih. Tapi justru masukan inilah yang menjadi pembelajaran agar kinerja BGN ke depan, terutama di Jawa Timur, semakin baik,” tutur Mahda. Mahda juga menyampaikan harapannya agar seluruh tim BGN dapat memberikan pelayanan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat, termasuk siswa, TGB, dan balita. “Saya berharap kami bisa melayani lebih baik lagi ke depannya. Pelayanan kami kepada masyarakat harus terus meningkat,” katanya. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian pertemuan regional yang melibatkan beberapa provinsi, seperti Jawa Timur, Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ke depan, kegiatan serupa kemungkinan akan digelar bergiliran di wilayah lain. Sebelumnya diberitakan, Upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi generasi muda kembali diperkuat melalui Pelatihan bagi Pelatih atau Training of Trainers (ToT) tingkat regional yang digelar di Surabaya pada 17–19 November 2025. Kegiatan ini diikuti 36 peserta dari berbagai provinsi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan mengambil tema “Memenuhi Gizi Seimbang, Menjaga Keamanan Pangan, Mewujudkan Generasi Sehat dan Cerdas melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”. Pelatihan ini berfokus pada peningkatan kapasitas fasilitator regional dalam memahami standar gizi dan keamanan pangan siap saji bagi para penjamah pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sekaligus memperkuat edukasi gizi Program MBG di satuan pendidikan. Kegiatan berlokasi di Best Western Papilio, Surabaya, dan dihadiri para tamu undangan termasuk perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Gizi Nasional, serta UNICEF Wilayah Jawa di Surabaya. Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan gizi pada kelompok rentan, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga remaja. Data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan angka stunting balita mencapai 19,8 persen, wasting 7,4 persen, dengan prevalensi obesitas balita sebesar 3,4 persen. Masalah lain seperti anemia pada anak usia 5–14 tahun juga masih tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029. Pada tahun 2025, program ini menargetkan menjangkau 82,9 juta jiwa termasuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta siswa mulai jenjang PAUD hingga SMA. Pelaksanaan program ini berpusat pada pembentukan 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai dapur penyedia makanan siap saji berskala besar. ToT ini dirancang untuk memastikan para fasilitator memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai standar gizi, keamanan pangan, teknik pengolahan makanan bergizi, hingga sanitasi lingkungan kerja. Selain itu, fasilitator juga dibekali keterampilan pedagogis agar mampu mengajarkan materi tersebut kepada guru dan tenaga kependidikan di daerah masing-masing. Materi pelatihan juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam menjamin distribusi makanan MBG yang aman, berkualitas, dan tepat waktu. Guru dan tenaga UKS dibekali kemampuan mengawasi penyajian makanan, memberi edukasi gizi, hingga memotivasi siswa untuk mengonsumsi makanan secara bijak tanpa menyisakan makanan. Kegiatan ToT ini memiliki beberapa tujuan utama, yakni: 1. Meningkatkan kapasitas fasilitator regional dalam melakukan pelatihan terintegrasi bagi penyelenggara SPPG dan pendidik di kabupaten/kota. Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap implementasi Program MBG dapat berjalan lebih efektif, seragam, dan sesuai standar nasional. Dengan kapasitas fasilitator yang semakin kuat, sekolah sebagai lini depan pelaksanaan MBG diharapkan mampu menjaga kualitas makanan, keamanan pangan, serta edukasi gizi yang menunjang tumbuh kembang generasi muda Indonesia.
