Pigora News Jatim

Hari Bakti PU ke-80: Kadia PU Bina Marga Prov. Jatim Edy Tambeng Tegaskan Komitmen Jaga Infrastruktur

Hari Bakti PU ke-80: Kadia PU Bina Marga Prov. Jatim Edy Tambeng Tegaskan Komitmen Jaga Infrastruktur SURABAYA — Dalam rangka memperingati Hari Bakti Pekerjaan Umum ke-80 yang diperingati 3 Desember 2025 mengusung tema “Infrastruktur Berkeadilan, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”, Kepala Dinas PU Bina Marga Jawa Timur Edy Tambeng menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga kualitas infrastruktur, khususnya jalan di wilayah Jawa Timur. Edy Tambeng menyampaikan bahwa keberlanjutan kualitas jalan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga pada kepedulian publik untuk segera melaporkan apabila ditemukan kerusakan di lapangan. “Harapannya, masyarakat juga ikut menjaga jalan. Kalau ada jalan rusak, segera laporkan ke call center kami. Ini bagian dari upaya pemeliharaan agar bisa segera kami tangani,” ujarnya. Menghadapi musim hujan yang mulai intens, ia juga menginstruksikan seluruh jajaran Petugas Unit Informasi (PUI) untuk tetap siaga di wilayah masing-masing. Kesiapsiagaan ini dinilai penting untuk mengantisipasi hambatan, potensi longsor, maupun kerusakan jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan, baik pada ruas kewenangan provinsi maupun yang berada di luar kewenangan provinsi. “Sekarang musim hujan, jadi tolong semua siaga di tempat dan wilayah masing-masing. Pantau apabila terjadi halangan atau kerusakan di jalan-jalan, termasuk menjelang Nataru. Kita tetap waspada dan menyiagakan alat-alat di lokasi-lokasi yang berpotensi terdampak,” tambahnya. Terlebih akan menghadapi momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru), Edy menyampaikan bahwa kesiapsiagaan menjadi prioritas. Dinas PU Bina Marga menyiapkan berbagai langkah antisipatif, termasuk kesiagaan alat berat serta pendirian pos-pos pemantauan di titik-titik strategis. “Menjelang Nataru, kita tetap waspada. Peralatan kami siagakan di lokasi-lokasi yang diperlukan. Call center tetap buka 24 jam. Silakan laporkan jika ada kondisi jalan yang membahayakan,” tambahnya.

Ketua PWM Jatim Sukadiono : Milad Muhammadiyah ke-113 Jadi Momentum Transformasi Internal dan Eksternal

SURABAYA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 pada Sabtu 29 November 2025 di Kantor PWM Jawa Timur, Surabaya. Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri langsung oleh Sekretaris PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Abdul Mu’ti serta ribuan peserta diantaranya dari pimpinan persyarikatan, ortom, serta para tokoh Muhammadiyah se-Jatim. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.A. turut memberikan sambutan melalui sambungan virtual. Dalam kesempatannya, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. H. Sukadiono, M.M., menegaskan bahwa Milad Muhammadiyah ke-113 menjadi momentum penting bagi PWM Jatim untuk melakukan transformasi besar, baik secara internal maupun eksternal. Hal itu ia sampaikan dalam rangkaian peringatan milad persyarikatan. Sukadiono mengungkapkan bahwa arahan Ketua Umum PP Muhammadiyah menjadi dasar PWM Jatim dalam merancang agenda perubahan. Pada aspek internal, PWM Jatim akan fokus pada tiga sektor utama: perbaikan sistem birokrasi, penguatan manajemen keuangan, dan peningkatan kualitas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). PWM Jatim, yang membina 38 rumah sakit Muhammadiyah–‘Aisyiyah dengan berbagai kelas, menargetkan peningkatan mutu secara bertahap. Rumah sakit kelas D akan ditingkatkan menjadi kelas C, sementara kelas C diupayakan naik ke kelas B melalui peningkatan layanan dan tata kelola. “Transformasi itu salah satunya bagaimana rumah sakit kelas D kita tingkatkan menjadi kelas C, dan kelas C kita dorong menuju kelas B. Semua didorong lewat peningkatan kualitas layanan,” ujar Sukadiono. Dalam bidang keuangan, PWM Jatim menekankan pentingnya sistem keuangan yang tersentralisir dan dapat diaudit secara profesional. Selama ini rumah sakit Muhammadiyah telah menggunakan auditor independen, namun PWM Jatim akan memperluas penerapan audit ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, terutama yang besar. “Dengan auditor independen dan sistem keuangan yang terintegrasi, kita bisa mengetahui dengan jelas kualitas manajemen keuangan dan total aset Muhammadiyah di Jawa Timur, termasuk berapa fresh money yang dimiliki AUM,” jelasnya. Digitalisasi juga menjadi agenda penting. Menurut Sukadiono, seluruh sistem perkantoran di tingkat daerah perlu beralih ke format digital untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi dengan PWM Jatim. Tak hanya internal, PWM Jatim juga menyiapkan langkah eksternal berupa penguatan sektor ekonomi dan pendirian amal usaha baru yang akan menjadi ikon persyarikatan di Jawa Timur. Sukadiono mengungkapkan bahwa sebelumnya PWM Jatim berencana mendirikan rumah sakit premium, namun rencana tersebut terhambat masalah perizinan. Karena itu, PWM Jatim kini mempertimbangkan pembangunan hotel berkelas sebagai alternatif yang dinilai lebih prospektif dan membanggakan. “Karena perizinannya tidak memungkinkan, rencana rumah sakit premium akan kita ubah. Mungkin akan menjadi hotel yang representatif dan membanggakan bagi Muhammadiyah Jawa Timur. Ini bagian dari transformasi ekonomi yang kami dorong,” ujarnya. Pada keeempatan tersebut, Ketua PWM Jatim menegaskan bahwa tiga langkah utama—perbaikan birokrasi, penguatan manajemen keuangan, dan digitalisasi—akan menjadi fokus PWM Jatim pada periode ini. Transformasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja organisasi sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Jawa Timur.

Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti Tekankan Kekompakan, Antikorupsi, Tajdid, dan Kesalehan Digital pada Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 Di PWM Jawa Timur

SURABAYA — Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Sabtu (29/11) menjadi momentum penting penyampaian pesan moral bagi persyarikatan. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Prof. Abdul Mu’ti, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kekompakan organisasi, semangat antikorupsi, pembaruan (tajdid), hingga urgensi kesalehan digital di era modern. Di hadapan warga Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya merawat ukhuwah dan mengelola perbedaan secara dewasa. Menurutnya, perbedaan (ikhtilaf) merupakan bagian dari sunnatullah, namun perpecahan (tafarruq) tidak boleh terjadi dalam tubuh persyarikatan. “Kita harus kompak. K-nya itu jangan konflik tapi kompak,” ujarnya menekankan.Ia mengingatkan pentingnya menjadikan ayat Waktasimu bihablillahi jami’a wala tafarroqu sebagai landasan persatuan. Pesan kedua yang ia tekankan adalah menjauhi praktik korupsi dalam bentuk apa pun. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa korupsi adalah pengkhianatan moral dan mencederai amanah yang diberikan masyarakat kepada Muhammadiyah. Ia mengutip penafsiran Muhammad Asad tentang larangan la tufsidu fil ardh yang dimaknai sebagai “jangan membuat kerusakan atau korupsi di muka bumi”. “Begitu Muhammadiyah itu korup, wassalam sudah,” tegasnya.“Alhamdulillah masyarakat percaya kepada Muhammadiyah. Kalau nyumbang InsyaAllah amanah. Itu harus kita jaga.” Menurutnya, integritas, akuntabilitas, serta governance yang bersih merupakan modal sosial terbesar bagi Muhammadiyah. Pesan ketiga yang disampaikan Abdul Mu’ti adalah pentingnya menjaga ruh tajdid atau pembaruan yang menjadi identitas Muhammadiyah sejak awal berdiri. “Identitas Muhammadiyah itu dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid. Jangan tajdidnya dipotong,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tanpa semangat pembaruan, Muhammadiyah akan tertinggal dan sulit menjawab tantangan zaman. Kreativitas dan kemampuan beradaptasi menjadi keharusan bagi seluruh kader dan amal usaha. Dalam bagian lain tausiyahnya, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya meningkatkan kualitas serta kuantitas amal usaha Muhammadiyah yang selama ini menjadi motor layanan umat dalam pendidikan, kesehatan, dan sosial. “Manusia itu tidak hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk ruhani. Karena itu Muhammadiyah berkomitmen membangun manusia seutuhnya,” ungkapnya. Amal usaha, menurutnya, harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya warga Muhammadiyah. Menjawab tantangan era digital, ia juga mengingatkan pentingnya literasi dan etika digital. Merujuk pada hasil survei Microsoft beberapa tahun lalu terkait rendahnya tingkat keadaban digital di Indonesia, Muhammadiyah pada Muktamar Surakarta telah menegaskan urgensi kesalehan digital. “Kita harus menguasai dan menggunakan teknologi digital untuk hal yang bermanfaat, bertanggung jawab, dan santun. Jangan sampai teknologi justru menimbulkan masalah seperti perundungan digital,” tegasnya. Ia mengajak orang tua, guru, dan generasi muda untuk lebih bijak dalam bermedia digital demi terwujudnya masyarakat yang damai, rukun, dan beradab. Menutup tausiyah, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kejujuran merupakan aset paling berharga bagi persyarikatan. “Kalau orang sudah dikenal jujur, dia tidak perlu buku putih. Nabi Muhammad pun tidak punya buku putih, tetapi dipercaya karena kejujurannya,” ujarnya. Ia berharap Muhammadiyah terus menjaga amanah, memperkuat persatuan, serta merawat tradisi tajdid sebagai ciri gerakan Islam berkemajuan.

PWM Jatim Gelar Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113, Haedar Nashir Sampaikan Pesan Ideologis dan Kebangsaan

SURABAYA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 pada 29 November 2025 di Kantor PWM Jawa Timur, Surabaya. Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri ribuan peserra dari pimpinan persyarikatan, serta para tokoh Muhammadiyah se-Jatim. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.A. turut memberikan sambutan melalui sambungan virtual. Dalam amanatnya, Haedar Nashir kembali menegaskan pentingnya memahami ideologi, sistem, dan arah gerakan Muhammadiyah agar setiap kader dan pimpinan tidak berjalan dengan tafsirnya sendiri. Ia menekankan bahwa Muhammadiyah memiliki fondasi pemikiran panjang yang dibangun sejak awal berdiri. Haedar menjelaskan bahwa ajaran, falsafah, hingga pedoman gerakan Muhammadiyah telah tersusun dalam berbagai dokumen resmi sejak 1956 hingga kini. Di antaranya Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (1969), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (2000), Dakwah Kultural (2002), hingga Risalah Islam Berkemajuan. “Para pembina, anggota, hingga pimpinan perlu membaca dokumen-dokumen itu agar tidak berorganisasi dengan paham sendiri. Di situ jelas terlihat distinctive Muhammadiyah—perbedaannya dengan yang lain,” ujarnya. Haedar juga menyampaikan 10 Sifat Muhammadiyah sebagai karakter penting gerakan, termasuk kerja sama dengan pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang berkeadilan. Ia mengingatkan bahwa kritik boleh dilakukan, namun harus tetap adil, santun, dan korektif. Ketua Umum PP Muhammadiyah itu kembali menyampaikan bahwa sistem organisasi persyarikatan bersifat kolektif-kolegial berbasis sistem, bukan sekadar kolektifitas. Karena itu, setiap majelis, lembaga, dan pimpinan diminta menjaga disiplin organisasi serta tidak membuat pernyataan atau sikap di luar mekanisme resmi. “Segala sesuatunya dimusyawarahkan. Sistem itulah yang mengatur kita. Maka semua pihak harus menjaga jalannya sistem,” tegas Haedar. Mengangkat tema Milad tentang kesejahteraan, Haedar menjelaskan bahwa isu tersebut merupakan kelanjutan dari agenda besar Tanwir Muhammadiyah di Kupang. Ia menyebut bahwa kesejahteraan lahir dan batin merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Menurutnya, bangsa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam ekonomi, termasuk ketimpangan dan rendahnya kesejahteraan sebagian masyarakat. Di sisi lain, umat Islam sebagai mayoritas juga perlu ditingkatkan kualitas dan kemandiriannya. “Jangan hanya bangga jumlah umat besar. Kualitasnya harus semakin maju. Kita harus berdaya secara ekonomi dan politik agar dapat membantu umat dan bahkan mendukung saudara-saudara kita seperti di Palestina,” ujar Haedar. Dalam konteks kebangsaan, Haedar mengapresiasi komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menghadapi tantangan ekonomi serta memperkuat peran negara. Muhammadiyah, menurutnya, harus memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas kontribusi bagi bangsa. Ia menyinggung pentingnya memperkuat ekonomi melalui koperasi dan usaha-usaha Muhammadiyah, meski tantangannya tidak ringan. Pengalaman Muhammadiyah dalam berbagai program kemitraan, menurutnya, menjadi bukti bahwa persyarikatan mampu mandiri sekaligus bersinergi dengan pemerintah. Haedar juga mengingatkan bahwa kehadiran kader Muhammadiyah di berbagai lembaga negara harus dipandang positif sebagai peluang kontribusi, bukan semata-mata kekuasaan. “Kalau ada yang perlu dikoreksi, kita perbaiki. Tetapi jangan selalu berprasangka negatif. Jadikan amanah itu sebagai sarana memberi manfaat bagi bangsa,” tuturnya. Di akhir sambutannya, Haedar berharap seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah terus memperkuat ideologi, memajukan kesejahteraan umat, menjaga sistem organisasi, serta meningkatkan peran kebangsaan. “Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan menjadi komitmen kita bersama untuk terus memajukan dakwah dan menghadirkan nilai-nilai Islam berkemajuan,” pungkasnya. .