SMA Negeri 10 Surabaya Dapat Bantuan CSR, Bambang Haryo Dorong Generasi Siap 2045

Surabaya- Anggota DPR RI, Bambang Haryo Soekartono menyalurkan bantuan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Rakyat Indonesia kepada SMA Negeri 10 Surabaya pada Jumat, 24 April 2026. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan fasilitas pendidikan, yang meliputi pembangunan canopy di area kolam serta pengecatan lapangan basket. Program ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman sekaligus menunjang aktivitas siswa, baik akademik maupun non-akademik. Dalam kesempatan tersebut, Bambang Haryo Soekartono menegaskan pentingnya peran kolaborasi antara lembaga legislatif dan dunia usaha dalam mendukung kemajuan pendidikan. Menurutnya, fasilitas yang memadai menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan potensi generasi muda. Pihak sekolah pun menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan. Dengan adanya program CSR ini, diharapkan sarana dan prasarana di SMA Negeri 10 Surabaya semakin optimal dalam mendukung kegiatan belajar mengajar serta aktivitas siswa di sekolah. Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Surabaya Teguh Santoso dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono yang sebelumnya juga telah meninjau langsung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut. Ia menjelaskan bahwa program MBG di SMA Negeri 10 Surabaya berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari para siswa. Program tersebut turut didukung oleh kebijakan pemerintah yang diimplementasikan melalui Dinas Pendidikan dengan pendekatan inovasi ketahanan pangan di lingkungan sekolah. Lebih lanjut, pihak sekolah memamerkan penvembangan inovasi bertajuk “Emas dari Sisa”, yakni pemanfaatan sisa makanan MBG yang tidak habis dikonsumsi siswa. Sisa makanan tersebut diolah menjadi pakan melalui budidaya maggot (larva lalat), yang dinilai memiliki nilai ekonomis serta mendukung konsep pengelolaan limbah berkelanjutan. “Dari sisa makanan itu kami olah melalui budidaya maggot. Siklusnya relatif singkat, sekitar 45 hari, dan hasilnya bisa dimanfaatkan sebagai pakan ikan maupun unggas,” jelasnya. Program ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah makanan, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan laboratorium ketahanan pangan di sekolah. Ke depan, pihak sekolah berencana mengintegrasikan budidaya maggot dengan perikanan dan pertanian sederhana, sehingga menciptakan ekosistem mandiri yang bermanfaat bagi siswa. Teguh berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan dunia usaha, agar mampu menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mengelola sumber daya secara kreatif dan berkelanjutan.
