Relawan dan Simpatisan MBG se-Jatim Gelar Pawai Akbar di Grahadi, Desak BGN Benahi Tata Kelola dan Libatkan Mitra

SURABAYA – Ratusan simpatisan dan relawan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) se-Jawa Timur menggelar Aksi Pawai Akbar di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (8/7/2026). Aksi damai yang berlangsung sekitar dua jam tersebut diikuti sekitar 500–600 peserta yang terdiri dari relawan, petani, pelaku UMKM, pemasok bahan pangan, peternak, hingga mitra dapur dari berbagai daerah di Jawa Timur. Massa datang dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Jombang, Madiun dan sejumlah kabupaten/kota lainnya. Selain menyampaikan aspirasi, peserta aksi juga membagikan sayuran hasil panen petani asal Malang sebagai bentuk kepedulian terhadap anjloknya harga komoditas pertanian sejak sejumlah dapur MBG berhenti beroperasi. Koordinator aksi, Muhammad Reza Pahlevi, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis sebagai program strategis nasional. Namun, dukungan tersebut dibarengi dengan tuntutan agar Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan pembenahan tata kelola program. Menurut Reza, berbagai perubahan aturan yang terjadi selama ini dinilai tidak sistematis dan justru merugikan para mitra, relawan, serta pemangku kepentingan lainnya. Ia meminta BGN memperbaiki sistem tata kelola, memberikan kepastian regulasi, serta membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan para mitra di lapangan. “Kami mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis, tetapi BGN harus segera berbenah. Tata kelola dan aturan yang terus berubah membuat mitra, relawan, petani hingga supplier kehilangan kepastian. Mitra bukan hanya pelaksana, tetapi juga bagian dari keberhasilan program yang harus didengar aspirasinya,” ujar Reza. Ia juga meminta kepemimpinan baru BGN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program, termasuk memperhatikan investasi yang telah dikeluarkan para pemilik dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, banyak mitra telah menginvestasikan dana pribadi maupun pinjaman bank hingga miliaran rupiah untuk membangun dapur, namun kini menghadapi ketidakpastian operasional akibat kebijakan penghentian sementara dan moratorium pembukaan dapur baru. Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan delapan tuntutan kepada BGN, di antaranya mendukung keberlanjutan Program MBG, membuka dialog dua arah dengan para mitra, mengevaluasi moratorium pembangunan dapur baru, mempercepat operasional dapur di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), mendukung pemberantasan korupsi di tubuh BGN, menghadirkan payung hukum yang kuat bagi program MBG, memperbaiki tata kelola kelembagaan, serta memberikan kepastian dan perlindungan terhadap relawan, UMKM, dan seluruh mitra pelaksana program. Reza menambahkan, banyak relawan yang sebelumnya telah meninggalkan pekerjaan lamanya demi bergabung dalam pelaksanaan Program MBG. Karena itu, ketidakpastian operasional tidak hanya berdampak pada pemilik dapur, tetapi juga terhadap nasib ribuan relawan yang menggantungkan penghasilan dari program tersebut. Sementara itu, Ketua DPC HKTI Kabupaten Malang, Makhrus Sholeh, mengungkapkan bahwa penghentian operasional sejumlah dapur MBG juga berdampak langsung terhadap sektor pertanian. Menurutnya, daya serap hasil panen menurun sehingga harga berbagai komoditas mengalami penurunan drastis. “Ketika Program MBG masih berjalan, harga telur berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram. Sekarang turun menjadi sekitar Rp18 ribu per kilogram. Begitu juga sawi daging yang sebelumnya sekitar Rp15 ribu, kini tinggal sekitar Rp3 ribu per kilogram. Petani sangat terdampak karena pasar kehilangan salah satu penyerap hasil panen,” ujar Makhrus. Para peserta berharap pemerintah segera mengevaluasi kebijakan yang menghentikan operasional sejumlah dapur MBG serta membuka komunikasi yang lebih terbuka dengan seluruh mitra. Mereka menilai kepastian regulasi menjadi kunci agar Program Makan Bergizi Gratis dapat kembali berjalan optimal sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, UMKM, dan seluruh pelaku yang terlibat dalam rantai pasok program tersebut.
Surabaya Printing Expo 2026 Resmi di Gelar 8-11 Juli Di Grand City Mall, Dorong Transformasi Industri Grafika dan Perkuat Daya Saing Indonesia Timur

SURABAYA – Krista Exhibitions Group kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong kemajuan industri grafika nasional melalui pembukaan Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 di Grand City Convention & Exhibition Surabaya, Rabu (8/7/2026). Memasuki penyelenggaraan yang ke-19, pameran industri percetakan terbesar di kawasan Indonesia Timur ini akan berlangsung selama empat hari, mulai 8 hingga 11 Juli 2026. Surabaya Printing Expo 2026 hadir sebagai wadah strategis yang mempertemukan produsen mesin percetakan, distributor, pelaku usaha, desainer grafis, akademisi, komunitas kreatif, hingga pelaku UMKM dalam satu ekosistem industri. Pameran ini diharapkan menjadi momentum penting untuk mempercepat adopsi teknologi terbaru, memperluas jejaring bisnis, sekaligus memperkuat daya saing industri percetakan nasional di tengah pesatnya transformasi digital. CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan Jawa Timur memiliki posisi yang sangat strategis sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan provinsi ini memiliki peluang besar untuk terus mengembangkan sektor percetakan dan grafika, terutama seiring meningkatnya kebutuhan industri manufaktur, kemasan, periklanan, hingga ekonomi kreatif. Menurut Daud, penyelenggaraan Surabaya Printing Expo tidak sekadar menghadirkan pameran produk dan teknologi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam industri percetakan. “Penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan dapat menjadi katalis bagi percepatan pertumbuhan industri grafis di Jawa Timur. Sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki potensi yang sangat besar dalam mendorong perkembangan sektor percetakan dan grafika, terutama seiring meningkatnya kebutuhan industri manufaktur, kemasan, periklanan, dan ekonomi kreatif. Melalui pameran ini, kami ingin menghadirkan ruang kolaborasi bagi pelaku industri untuk memperkenalkan teknologi terkini, meningkatkan daya saing, serta membuka peluang kemitraan dan pasar baru yang dapat mendukung transformasi industri grafika menuju era digital yang lebih inovatif, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Daud. Ia menambahkan, perkembangan teknologi telah mengubah wajah industri percetakan secara signifikan. Karena itu, pelaku industri dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi digital agar tetap kompetitif di tengah persaingan global. Pada penyelenggaraan tahun ini, Surabaya Printing Expo tampil lebih besar dengan menghadirkan lebih dari 150 peserta pameran, termasuk 10 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menampilkan berbagai produk unggulan. Selama empat hari pelaksanaan, panitia menargetkan pameran ini mampu menarik sedikitnya 15.000 pengunjung yang berasal dari berbagai sektor industri, dunia usaha, lembaga pendidikan, hingga masyarakat umum. Berbagai perusahaan nasional maupun internasional memamerkan teknologi percetakan terbaru yang kini berkembang sangat pesat. Pengunjung dapat melihat secara langsung demonstrasi penggunaan mesin-mesin modern melalui konsep hands-on experience, sehingga dapat memahami kemampuan dan efisiensi teknologi yang ditawarkan. Beragam inovasi ditampilkan dalam pameran ini, mulai dari digital printing, offset printing, 3D printing, UV printing, hingga web-based printing system yang menawarkan proses produksi lebih cepat, presisi tinggi, efisien, serta mampu menjawab kebutuhan industri modern. Selain menjadi ajang pameran teknologi, SPE 2026 juga menghadirkan program edukasi melalui seminar dan workshop yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang percetakan dan industri kreatif. Salah satu agenda unggulan adalah workshop bertajuk “Dari Ide ke Merchandise: Workshop Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk Desain Merchandise Kreatif.” Dalam sesi ini peserta diajak memahami bagaimana teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan ide kreatif, membuat desain produk, hingga menciptakan merchandise yang memiliki nilai jual tinggi. Workshop tersebut diharapkan mampu membuka wawasan para desainer, pelaku UMKM, hingga industri kreatif mengenai pemanfaatan AI sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi kerja, produktivitas, serta menciptakan peluang bisnis baru di era digital. Komitmen terhadap pengembangan UMKM juga diwujudkan melalui seminar bertema “Strategi UMKM Naik Kelas Melalui Bisnis Kreatif & Kemasan Produk.” Seminar ini membahas pentingnya inovasi produk, penguatan identitas merek (branding), serta desain kemasan sebagai strategi meningkatkan daya saing produk lokal. Melalui seminar tersebut, peserta akan memperoleh pemahaman bahwa kemasan bukan hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun citra merek, meningkatkan nilai tambah, serta memperluas peluang pemasaran hingga pasar nasional maupun internasional. Dengan menghadirkan pameran teknologi, forum bisnis, seminar, hingga workshop, Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan industri grafika nasional sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat perkembangan industri kreatif dan percetakan di Indonesia. Panitia juga mengundang para pelaku usaha, pemilik UMKM, desainer grafis, institusi pendidikan, mahasiswa, serta masyarakat umum untuk memanfaatkan pameran ini sebagai sarana memperluas wawasan, meningkatkan kompetensi, sekaligus membangun jejaring kemitraan bisnis. Surabaya Printing Expo 2026 berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Grand City Convention & Exhibition Surabaya dan dibuka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 19.00 WIB. Pengunjung dapat melakukan registrasi secara daring maupun langsung di lokasi pameran selama kegiatan berlangsung.