Dinas Kehutanan Jatim Hadiri Peluncuran HUTAN.ID FEST 2026, Dorong Hutan Jadi Ruang Kolaborasi, Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat

SURABAYA – Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur menghadiri peluncuran Program Kegiatan HUTAN.ID FEST 2026 dengan tema “Bangga Hutan Indonesia” yang digelar di Grand City Mall Surabaya, Jumat (11/9/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan melalui Panitia HUTAN.ID FEST 2026 tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hutan sekaligus mempertemukan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap isu kehutanan, lingkungan, inovasi dan pembangunan berkelanjutan. Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Kepala UPT Perbenihan Tanaman Hutan (PTH) Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Didik Triswantara, S.Hut., M.M. Dalam sambutannya, Didik menekankan bahwa pembangunan kehutanan tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pengelolaan hutan, tetapi juga menyangkut pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan, pengembangan perbenihan tanaman hutan serta pemanfaatan teknologi dan inovasi. Menurutnya, berbagai aspek tersebut merupakan bagian penting dalam membangun ekosistem kehutanan yang semakin adaptif terhadap perubahan dan kebutuhan masyarakat. “Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan, pengembangan perbenihan tanaman hutan, hingga pemanfaatan teknologi dan inovasi merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kehutanan yang lebih adaptif,” ujar Didik. Ia menilai HUTAN.ID FEST 2026 memiliki posisi strategis karena dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai gagasan, inovasi serta praktik baik di bidang kehutanan. Festival tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk memperkenalkan hutan kepada masyarakat, tetapi juga memperkenalkan berbagai potensi, inovasi, ragam jasa serta peluang kolaborasi yang lahir dari ekosistem kehutanan Indonesia. Menurutnya, keberadaan hutan harus semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Hutan tidak cukup hanya dibicarakan dalam ruang kebijakan maupun teknis kehutanan, tetapi juga perlu hadir dalam kesadaran publik, dunia pendidikan, inovasi, dunia usaha hingga kehidupan sehari-hari. Karena itu, semangat “Bangga Hutan Indonesia” harus diarahkan menjadi kepedulian nyata. Kepedulian tersebut selanjutnya perlu diwujudkan melalui tindakan bersama untuk menjaga dan memanfaatkan hutan secara bijak. “Kebanggaan terhadap hutan harus berubah menjadi kepedulian dan kepedulian harus berubah menjadi tindakan,” tegasnya. Didik juga menilai salah satu kekuatan utama sebuah festival adalah kemampuannya mempertemukan berbagai pihak. Festival bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi dapat menjadi ruang untuk berbagi gagasan, memperkenalkan inovasi, membangun jejaring sekaligus menemukan peluang kolaborasi baru. Karena itu, ia berharap HUTAN.ID FEST 2026 tidak berhenti sebagai rangkaian kegiatan selama festival berlangsung. Jejaring dan gagasan yang muncul diharapkan dapat terus berkembang setelah kegiatan berakhir. “Kami berharap gagasan dan jejaring yang lahir dari kegiatan ini dapat berkembang setelah festival selesai,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Didik juga menegaskan komitmen Jawa Timur untuk terus menjadi bagian dari berbagai upaya bersama dalam membangun kehutanan Indonesia yang semakin maju, adaptif, inklusif dan berkelanjutan. Ia mengajak seluruh peserta, khususnya generasi muda, untuk lebih mengenal hutan, memiliki kebanggaan terhadap hutan, memanfaatkan potensinya secara bijak serta ikut menjaga keberadaannya bagi generasi mendatang. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kehutanan tidak semata-mata dapat diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam. Lebih jauh, keberhasilan tersebut harus dilihat dari kemampuan bersama dalam memastikan hutan tetap hidup, masyarakat memperoleh manfaat dan generasi berikutnya tetap memiliki hutan yang dapat dibanggakan. “Keberhasilan pembangunan kehutanan bukan hanya diukur dari berapa banyak pohon yang kita tanam, tetapi juga dari seberapa baik kita memastikan hutan tetap hidup, masyarakat mendapatkan manfaat dan generasi yang akan datang tetap memiliki hutan yang dapat mereka banggakan,” tuturnya. Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Kehutanan, panitia penyelenggara, mitra, komunitas, dunia usaha, akademisi serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan HUTAN.ID FEST 2026. Didik berharap kegiatan tersebut dapat berjalan lancar dan memberikan inspirasi bagi masyarakat, sekaligus memperluas jejaring kolaborasi untuk memperkuat pembangunan kehutanan Indonesia. “Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan sukses, memberikan inspirasi, memperluas jejaring kolaborasi, dan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk mewujudkan kehutanan yang semakin kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya. Dari Jawa Timur, semangat “Bangga Hutan Indonesia” diharapkan terus digaungkan sebagai gerakan bersama. Kebanggaan terhadap hutan tidak berhenti pada slogan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, pemberdayaan masyarakat, inovasi, kolaborasi dan tindakan nyata untuk menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.
HUTAN.ID FEST 2026 Digelar di Surabaya 11-13 September, Kementerian Kehutanan Ungkap Potensi Besar Hutan Jatim

SURABAYA – Kementerian Kehutanan melalui Panitia HUTAN.ID FEST 2026 resmi meluncurkan Program Kegiatan HUTAN.ID FEST 2026 dengan tema “Bangga Hutan Indonesia” di Grand City Mall Surabaya, Jumat (11/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, Staf Ahli Menteri Kehutanan RI, Adidah Ghofar, menyampaikan bahwa tema “Bangga Hutan Indonesia” menjadi penting karena Indonesia memiliki kekayaan hutan yang besar sekaligus memiliki keunikan yang dapat menjadi kekuatan dan daya saing bangsa maupun daerah. Menurut Adidah, hutan tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga mempunyai fungsi sosial dan ekonomi. Karena itu, kebanggaan terhadap hutan harus diwujudkan melalui cara masyarakat dan pemerintah memperlakukan serta mengelola hutan secara bijaksana. “Memang wajarnya kita memiliki kebanggaan karena kita memiliki hutan provinsi ketiga terbesar di dunia dan memiliki keunikan,” ujarnya dalam sambutan. Ia menilai keunikan sumber daya hutan merupakan aset yang tidak dimiliki oleh semua negara maupun daerah. Apabila dikelola dengan tepat, keunikan tersebut dapat menjadi unique capability yang memberikan daya saing. Adidah juga mengapresiasi pelaksanaan HUTAN.ID FEST 2026 yang tidak hanya menghadirkan kegiatan di kawasan hutan, tetapi dibawa ke tengah kawasan perkotaan. Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar isu kehutanan semakin dekat dengan masyarakat. “Biasanya kita hanya di hutan, sekarang kita ke area di mana orang banyak, agar mendengar hal-hal terkait dengan hutan,” katanya. Melalui festival yang berlangsung selama beberapa hari tersebut, masyarakat diharapkan dapat melihat secara langsung berbagai program dan aktivitas yang berkaitan dengan kehutanan. Mulai dari kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, kegiatan pelaku usaha, kelompok tani hingga aktivitas kelompok masyarakat akan diperkenalkan dalam festival tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai pengelolaan dan pemanfaatan hutan Indonesia. Adidah menekankan bahwa masyarakat perkotaan terkadang merasa hutan berada jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, keberadaan hutan memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. “Hutan menjaga air yang kita minum, udara yang kita hirup, pangan yang kita konsumsi serta ketahanan desa dan kota terhadap bencana dan perubahan iklim,” jelasnya. Menurutnya, semakin dekat masyarakat dengan pusat perkotaan, sering kali semakin kecil pula persepsi mengenai dampak langsung keberadaan hutan. Padahal, berbagai manfaat hutan dirasakan oleh masyarakat secara tidak langsung dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, HUTAN.ID FEST 2026 diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan isu kehutanan. Festival tersebut bukan hanya menjadi ajang memperkenalkan hutan, tetapi juga menunjukkan berbagai manfaat dan potensi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Jawa Timur Punya 1,36 Juta Hektare Kawasan Hutan Dalam kesempatan tersebut, Adidah secara khusus menyoroti posisi Jawa Timur dalam pembangunan sektor kehutanan nasional. Ia menyebut Jawa Timur memiliki sekitar 1,36 juta hektare kawasan hutan. Luasan tersebut memang tidak sebesar kawasan hutan yang dimiliki sejumlah provinsi di Kalimantan maupun Sumatera. Namun, menurutnya, ukuran luas kawasan hutan bukan satu-satunya indikator untuk melihat kontribusi sektor kehutanan terhadap pembangunan. Justru Jawa Timur dinilai menjadi salah satu contoh daerah yang mampu memberikan kontribusi besar dari sektor kehutanan meskipun luas kawasan hutannya relatif lebih kecil dibandingkan provinsi-provinsi berhutan luas di Indonesia. “Kalau kita lihat mungkin kalau ditanya sekarang mana provinsi yang memiliki kontribusi hutannya paling tinggi terhadap pembangunan, pasti mikirnya Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera, Riau. Tetapi yang paling tinggi adalah Jawa Timur,” ungkapnya. Menurut Adidah, tingginya kontribusi tersebut tidak terlepas dari produktivitas dan nilai tambah yang berhasil dikembangkan dari sumber daya hutan. Hutan tidak hanya dilihat sebagai kawasan yang harus dijaga, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara bijak untuk menghasilkan berbagai produk turunan, jasa lingkungan maupun pengembangan wisata berbasis hutan. “Dengan luasan 1,36 juta saja bisa memberikan sumbangan yang sangat tinggi. Itu karena ada produktivitas di sana, karena ada nilai tambah. Hutan dimanfaatkan untuk wisata, hutan dimanfaatkan sebagai produk turunan,” katanya. Ia menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan Jawa Timur dalam mengembangkan sektor kehutanan. Pengelolaan hutan yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus mempertahankan fungsi ekologis dapat memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. Adidah juga menyinggung keberadaan sejumlah kawasan konservasi dan taman nasional di Jawa Timur yang memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan daerah. Keberadaan kawasan tersebut tidak hanya penting dari sisi konservasi, tetapi juga memiliki potensi wisata dan ekonomi apabila dikelola dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, potensi tersebut turut memperlihatkan bahwa sektor kehutanan memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan ekonomi daerah. Hutan Harus Dikelola Bijak dan Berkelanjutan Lebih jauh, Adidah menegaskan bahwa semangat “Bangga Hutan Indonesia” tidak boleh berhenti pada kebanggaan semata. Kebanggaan harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk menjaga hutan sekaligus memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Karena itu, masyarakat diajak memanfaatkan momentum HUTAN.ID FEST 2026 untuk mengenal lebih jauh apa yang telah dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, kelompok tani dan masyarakat dalam mengelola hutan. Menurutnya, semakin banyak masyarakat memahami fungsi dan manfaat hutan, semakin besar pula peluang tumbuhnya kepedulian terhadap keberlanjutan hutan. Ia juga mengajak masyarakat untuk mengajak keluarga, teman dan berbagai kelompok masyarakat hadir dalam kegiatan HUTAN.ID FEST 2026. Dengan begitu, festival dapat menjadi sarana edukasi sekaligus ruang membangun jejaring antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap kehutanan. Adidah menilai keberadaan hutan harus ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sesuatu yang terpisah dari aktivitas ekonomi dan pembangunan. Pengelolaan hutan yang baik, menurutnya, harus mampu menjaga fungsi ekologis sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. “Bangga hutan Indonesia tergantung bagaimana kita memperlakukan hutan,” tegasnya. Melalui HUTAN.ID FEST 2026, Kementerian Kehutanan berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa hutan memiliki peran penting dalam menjaga air, udara, pangan, ketahanan masyarakat serta menghadapi bencana dan perubahan iklim. Jawa Timur pun dinilai memiliki pengalaman penting dalam menunjukkan bagaimana kawasan hutan yang tidak terbesar secara luasan tetap mampu memberikan kontribusi signifikan melalui produktivitas, nilai tambah, wisata dan berbagai pemanfaatan hasil hutan yang dilakukan secara bijak. Festival tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, kelompok tani, pelaku usaha dan komunitas dalam membangun kehutanan Indonesia yang produktif, inklusif dan berkelanjutan.