Pigora News Jatim

PII Jatim Gelar Talkshow “Productivity Goes to Campus” Bahas Peran Strategis Supply Chain dan Logistik

Surabaya- Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Jawa Timur menggelar talkshow Productivity Goes to Campus dengan tema “Peran Strategis Supply Chain & Logistik dalam Meningkatkan Produktivitas Nasional”. Acara ini berlangsung di Auditorium Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi ITS, Jl. Cokroaminoto 12A Surabaya dan menghadirkan mahasiswa, akademisi, serta para pelaku industri. Ketua PII Jawa Timur, Gentur, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi momentum pembukaan Badan Kejuruan (BK) Industri Wilayah Jawa Timur. Ia menilai Jawa Timur memiliki potensi besar karena menjadi rumah bagi 961 industri besar, sehingga membutuhkan wadah koordinasi dan peningkatan kompetensi para insinyur di bidang industri. “Agenda hari ini intinya ingin membuka BK Industri Wilayah Jawa Timur. Karena Jatim memiliki hampir seribu industri besar, maka penting adanya pembukaan BK di daerah agar lebih dekat dengan kebutuhan dunia industri,” ujarnya. Gentur menjelaskan, selain pembukaan BK Industri, kegiatan ini juga diisi dengan penandatanganan MoU terkait penyerahan sebagian tugas organisasi serta penguatan kerja sama antara PII, perguruan tinggi, dan dunia industri. Ia berharap jurusan-jurusan teknik industri di perguruan tinggi dapat terlibat aktif dalam pengembangan supply chain, logistik, dan manajemen industri yang lebih maju. Menurutnya, Jawa Timur memiliki keunggulan dari sisi sumber daya manusia, prasarana, hingga potensi material. Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat sektor industri melalui kerja sama dengan berbagai asosiasi termasuk ABINDO. “Pemerintah terus mendorong, baik di pusat maupun provinsi. Karena itu, penting sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan PII sebagai organisasi profesi insinyur untuk memperkuat SDM industri,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara insinyur dan pelaku industri harus terus berlanjut, terutama dalam memahami kondisi nyata industri seperti rantai pasok material, pengelolaan limbah, dan persoalan teknis lainnya. Dengan demikian, insinyur dapat memberikan solusi yang relevan dan berbasis kebutuhan lapangan. “Industri butuh insinyur, dan insinyur butuh industri. Harapan saya, mereka yang bekerja di industri bisa ikut terlibat dalam dunia keinsinyuran agar terjadi saling memahami. Banyak persoalan seperti packaging, rantai pasok, hingga limbah yang harus dibahas bersama,” jelas Gentur. Acara talkshow ini menjadi ruang dialog penting untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan calon insinyur mengenai tantangan nyata di sektor supply chain dan logistik, sekaligus memperkuat produktivitas nasional melalui sinergi akademisi, industri, dan organisasi profesi.

Kadisperta KP Heru Suseno Paparkan Strategi Penguatan Ketahanan Pangan dan Produksi Pertanian pada High Level Meeting TPID–TP2DD–TP2ED Jawa Timur 2025

Surabaya- Pada High Level Meeting TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah), TP2DD (Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah), dan TP2ED (Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah) Tahun 2025 yang digelar di Hotel DoubleTree Surabaya, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, memaparkan strategi dan capaian kinerja sektor pertanian sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pangan serta pengendalian inflasi pangan Jawa Timur. Dalam paparannya, Heru menyampaikan sejumlah program prioritas tahun 2025 yang telah direalisasikan secara optimal, mulai dari perlindungan petani, optimalisasi lahan, penguatan produksi hortikultura, hingga pengamanan hasil pertanian. Heru menjelaskan bahwa Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga keberlanjutan produksi padi. Pada 2025, fasilitasi premi AUTP dibiayai APBD dengan dua skema, yakni subsidi 100 persen untuk 11.000 hektare dan subsidi 80 persen untuk 10.000 hektare. Total layanan mencapai 21.000 hektare, seluruhnya telah direalisasikan. Program Optimalisasi Lahan (OPLAH) dilaksanakan di 13 kabupaten dengan total luasan 20.008 hektare, yang seluruhnya berhasil direalisasikan 100 persen. Untuk mendukung peningkatan produksi, Disperta KP juga menyalurkan alsintan pra-panen dan pasca-panen melalui APBD maupun P-APBD. Rinciannya antara lain: Alsintan Pra-Panen APBD: 172 unit, Alsintan Pra-Panen P-APBD (proses pengadaan): 227 unit serta Alsintan Pascapanen: combine harvester, power thresher, corn sheller, hingga rice milling unit dengan total 68 unit terealisasi. Heru juga menyoroti penguatan komoditas hortikultura untuk mendukung diversifikasi pangan. Program tersebut meliputi: Pengembangan kawasan bawang merah 20 hektare, Pengembangan cabai besar 29 hektare, Pengembangan cabai rawit 19 hektare, P2B (Peningkatan Produktivitas Berbasis Lokasi) di 2 titik lokasi, realisasi 100 persen. Selain itu, Jawa Timur juga menetapkan Champion Hortikultura 2025, terdiri atas petani atau kelompok tani unggulan di bidang bawang merah dan cabai dari berbagai kabupaten. Disperta KP juga memperkuat pengamanan hasil pertanian melalui: Penerapan GAP pada 45 lokasi, SLPHT hortikultura (2 unit) dan SLPTT padi (3 unit), Pelatihan pembuatan APH (1 unit) dan Bantuan benih padi 217.750 ha serta benih jagung 41.025 ha. Selain itu terdapat Penerapan MTS (Manajemen Tanaman Sehat), Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, dan Pemantauan dampak perubahan iklim (DPI). Seluruh kegiatan tersebut telah mencapai realisasi hingga 100 persen. Heru menyampaikan bahwa cadangan pangan pemerintah daerah (CPPD) Jawa Timur pada Oktober 2025 mencapai 825,36 ton, yang tersebar di berbagai kabupaten/kota untuk menjaga ketersediaan dan mitigasi gejolak harga. Strategi peningkatan Indeks Pertanaman (IP) padi dari 1,95 menjadi 2,28 dilakukan melalui: Rehabilitasi dan peningkatan jaringan irigasi, Optimalisasi fungsi saluran, Pemanfaatan alsintan pra-panen, Ketersediaan pupuk dan benih unggul, Penerapan budidaya tanaman sehat dan efisien. Heru juga menampilkan data Luas Tanam Padi (LTT) per 23 November 2025 yang menunjukkan posisi Jawa Timur masih menjadi daerah dengan tanam padi terluas di Indonesia: Jawa Timur: 1.858.941 Ha, Jawa Barat: 1.843.227 Ha serta Jawa Tengah: 1.633.625 Ha Dengan berbagai capaian dan program yang telah berjalan secara optimal, Heru menyatakan optimisme bahwa Jawa Timur mampu menjaga stabilitas pangan, memastikan kecukupan pasokan komoditas strategis, serta memperkuat ketahanan pangan jangka panjang di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika inflasi.