DPD Demokrat Jatim Gelar Bimtek Anggota DPRD, Emil Dardak Tekankan Penyelarasan Program Strategis Pemerintah

SURABAYA — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Jawa Timur menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota DPRD Fraksi Partai Demokrat Provinsi/Kabupaten/Kota pada Kamis, 27 November 2025 bertempat di Hotel Shangri-La Surabaya. Kegiatan ini dibuka secara resmi dan dihadiri oleh seluruh legislator Demokrat dari berbagai daerah di Jawa Timur. Ketua DPD Demokrat Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dalam sambutannya menegaskan bahwa Bimtek ini menjadi momentum penting bagi para legislator untuk menyelaraskan pemahaman dan langkah politik dalam mendukung berbagai program strategis pemerintah. Emil menyebut, banyak program prioritas nasional yang kini perlu dikawal bersama demi suksesnya pembangunan, antara lain Sekolah Rakyat, MBG, ketahanan pangan, operasi desa merah putih, hingga transportasi gratis. Selain itu, Jawa Timur juga memiliki sejumlah komoditas strategis yang perlu didorong hilirisasinya, seperti tebu dan potensi sumber daya maritim. “Semua ini harus diselaraskan. Rekan-rekan yang duduk di Dewan harus punya perspektif yang sama, karena Partai Demokrat juga bagian dari koalisi pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran. Bimtek ini bukan sekadar mendengar materi, tapi mematangkan pemahaman bersama,” tegas Emil. Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur itu juga menyinggung peran strategis DPRD, khususnya dalam pembahasan APBD. Ia mengingatkan bahwa tahun depan daerah akan menghadapi tantangan berupa pengurangan transfer anggaran, sehingga perlu strategi matang untuk menjaga kualitas layanan publik. “Kita tidak boleh abai. Harus menentukan skala prioritas dan berkoordinasi dengan pusat terkait program-program daerah yang bisa diperkuat lewat skema pendanaan nasional, seperti investasi jalan daerah, sekolah, maupun infrastruktur lainnya,” jelasnya. Terkait isu politik dan Pemilu 2029, Emil menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukan pada hitung-hitungan elektoral, melainkan kerja nyata untuk masyarakat. “Masyarakat itu ingin partai bekerja, bukan bicara kursi. Yang ada sekarang saja harus kita pertanggungjawabkan,” ujarnya. Emil juga menanggapi isu penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jawa Timur 2026 yang sedang ramai serta disertai aksi buruh. Ia mengapresiasi komunikasi yang baik antara serikat buruh dan Pemprov, yang hari ini diterima langsung oleh Sekda. “Kami selalu memaksimalkan upaya untuk kesejahteraan buruh, dengan tetap memperhatikan daya saing perusahaan. Komunikasi seperti tahun-tahun sebelumnya berjalan baik,” katanya. Saat ditanya mengenai wacana bahwa kenaikan UMP seharusnya tidak dilakukan setiap tahun, Emil memilih tidak menjawab secara terburu-buru. “Pertanyaan itu tidak bisa dijawab sambil lalu. Harus dibahas bersama, tidak bisa hanya dengan teori. Jadi saya tidak ingin mengomentari wacana tersebut saat ini,” tutup Emil. Kegiatan Bimtek ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas dan soliditas Fraksi Partai Demokrat di seluruh Jawa Timur dalam mengawal program-program pembangunan yang berpihak pada rakyat.
Anggota Komisi E DPRD Jatim Rasiyo Tekankan Integritas dan Penguasaan IT pada Momentum Peeingatan Hari Korpri 2025

SURABAYA — Memperingati Hari Korpri 2025, Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Rasiyo menyampaikan pesan penting terkait peran ASN dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih, profesional, dan berwibawa. Menurutnya, tema besar Korpri tahun ini tetap berakar pada pengabdian kepada bangsa dan negara, dengan menempatkan disiplin dan kepatuhan terhadap aturan sebagai pondasi utama. “Korpri itu intinya mengabdi pada bangsa dan negara. Warga Pegawai Republik Indonesia harus taat pada aturan sehingga dapat melaksanakan ketentuan dengan baik. Dengan Korpri yang berdaulat, negara kita akan semakin maju,” ujarnya. Rasiyo juga menekankan bahwa berbagai persoalan yang muncul di tubuh Korpri tidak dapat digeneralisasi sebagai kegagalan organisasi, melainkan lebih kepada perilaku individu. Karena itu, ia mendorong agar ASN terus menjaga integritas serta menjauhi praktik-praktik yang mencederai kepercayaan publik. “Teman-teman sebenarnya sudah sangat paham. Kasus-kasus yang terjadi itu sifatnya individual. Itu harus dikurangi, apalagi pemerintahan saat ini menuntut pemerintahan yang bersih dan berwibawa,” tambahnya. Selain integritas, Rasiyo menyoroti tantangan besar ASN di era modern, yaitu kemampuan menguasai teknologi informasi. Menurutnya, pelayanan publik kini tidak lagi sepenuhnya bersifat fisik, tetapi telah bergeser ke arah layanan digital yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan efisiensi. “Tantangan ke depan di era modern ini tentu seorang Korpri harus memahami IT dengan baik. Pelayanan sekarang bisa dilakukan secara komputer, Google, dan digital,” tegasnya. Di akhir keterangannya, Rasiyo berharap momentum Hari Korpri 2025 menjadi refleksi bagi seluruh ASN untuk terus meningkatkan kinerja, kompetensi, dan dedikasi demi kemajuan Jawa Timur dan Indonesia.
36 ASN Resmi Jadi Insinyur Profesional, Ketua PII Gresik Awang Djohan Bachtiar Tegaskan Pentingnya Sertifikasi

Gresik- Sebanyak 36 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Gresik resmi menyandang gelar Profesi Insinyur setelah menuntaskan Program Studi Profesi Insinyur di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWM) Surabaya. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik, Pemerintah Kabupaten Gresik, dan UKWM Surabaya sebagai upaya peningkatan kompetensi SDM di bidang keinsinyuran. Ketua PII Cabang Gresik, Awang Djohan Bachtiar, menjelaskan bahwa keikutsertaan 36 ASN ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama resmi yang telah dituangkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Gresik, PII Gresik, dan UKWM. “Terkait dengan 36 ASN di lingkungan Pemkab Gresik yang sudah tersertifikasi insinyur, itu adalah tindak lanjut dari MoU antara pemerintah daerah, PII Cabang Gresik, dan UKWM. Kelompok pertama memang berjumlah 36 ASN, sementara gelombang kedua juga ada meski tidak terlalu banyak,” ujarnya setelah mengahdiri acara talkshow Productivity Goes to Campus dengan tema “Peran Strategis Supply Chain & Logistik dalam Meningkatkan Produktivitas Nasional” yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Jawa Timur 27 November 2025. Awang menambahkan bahwa Pemkab Gresik melalui Sekretaris Daerah telah menyampaikan rencana penambahan peserta pada tahun 2026 untuk kembali mengikuti sekolah profesi insinyur di UKWM Surabaya. Langkah ini dinilai penting untuk memenuhi amanat Undang-Undang Keinsinyuran, yang mengharuskan setiap individu yang melakukan praktik keinsinyuran memiliki sertifikat profesi. “Dengan adanya undang-undang keinsinyuran, paling tidak kita sudah patuh aturan. Siapa pun yang melakukan praktik keinsinyuran harus memiliki sertifikat insinyur,” tegasnya. Terkait kualitas kinerja, Awang menjelaskan bahwa ASN yang telah mendapat sertifikat insinyur kini memiliki pengakuan legal yang lebih kuat dalam menjalankan tugas-tugas keinsinyuran. Sebaliknya, mereka yang belum bersertifikat dinilai belum memenuhi standar etik maupun regulasi profesi. “ASN yang sudah mendapatkan sertifikat insinyur berarti secara legal sudah diakui. Kalau belum punya sertifikat, maka hal itu menjadi kurang baik karena hasil kerja keinsinyurannya belum bisa dipertanggungjawabkan secara etik maupun sesuai aturan,” tambah Awang. Program ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme para ASN dalam melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan teknik dan keinsinyuran, sekaligus memastikan seluruh proyek pemerintah dijalankan oleh tenaga yang kompeten dan tersertifikasi.
PII Gelar Talkshow “Productivity Goes to Campus” Bahas Peran Strategis Supply Chain dan Logistik

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Jawa Timur menggelar talkshow Productivity Goes to Campus dengan tema “Peran Strategis Supply Chain & Logistik dalam Meningkatkan Produktivitas Nasional”. Acara ini berlangsung di Auditorium Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi ITS, Jl. Cokroaminoto 12A Surabaya dan menghadirkan mahasiswa, akademisi, serta para pelaku industri pada Kamis 27 November 2025. Ketua PII Jawa Timur, Dr. Ir. Gentur Prihantono, SP.SH.MT. MH. IPU, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi momentum pembukaan Badan Kejuruan (BK) Industri Wilayah Jawa Timur. Ia menilai Jawa Timur memiliki potensi besar karena menjadi rumah bagi 961 industri besar, sehingga membutuhkan wadah koordinasi dan peningkatan kompetensi para insinyur di bidang industri. “Agenda hari ini intinya ingin membuka BK Industri Wilayah Jawa Timur. Karena Jatim memiliki hampir seribu industri besar, maka penting adanya pembukaan BK di daerah agar lebih dekat dengan kebutuhan dunia industri,” ujarnya. Gentur menjelaskan, selain pembukaan BK Industri, kegiatan ini juga diisi dengan penandatanganan MoU terkait penyerahan sebagian tugas organisasi serta penguatan kerja sama antara PII, perguruan tinggi, dan dunia industri. Ia berharap jurusan-jurusan teknik industri di perguruan tinggi dapat terlibat aktif dalam pengembangan supply chain, logistik, dan manajemen industri yang lebih maju. Menurutnya, Jawa Timur memiliki keunggulan dari sisi sumber daya manusia, prasarana, hingga potensi material. Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat sektor industri melalui kerja sama dengan berbagai asosiasi termasuk ABINDO. “Pemerintah terus mendorong, baik di pusat maupun provinsi. Karena itu, penting sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan PII sebagai organisasi profesi insinyur untuk memperkuat SDM industri,” tambahnya. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara insinyur dan pelaku industri harus terus berlanjut, terutama dalam memahami kondisi nyata industri seperti rantai pasok material, pengelolaan limbah, dan persoalan teknis lainnya. Dengan demikian, insinyur dapat memberikan solusi yang relevan dan berbasis kebutuhan lapangan. “Industri butuh insinyur, dan insinyur butuh industri. Harapan saya, mereka yang bekerja di industri bisa ikut terlibat dalam dunia keinsinyuran agar terjadi saling memahami. Banyak persoalan seperti packaging, rantai pasok, hingga limbah yang harus dibahas bersama,” jelas Gentur. Acara talkshow ini menjadi ruang dialog penting untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan calon insinyur mengenai tantangan nyata di sektor supply chain dan logistik, sekaligus memperkuat produktivitas nasional melalui sinergi akademisi, industri, dan organisasi profesi. Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan seminar nasional yang diinisiasi Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Ia menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu pusat industri terbesar di Indonesia sehingga kegiatan semacam ini menjadi sangat relevan untuk memperkuat daya saing daerah. “Wakil Ibu Gubernur mengapresiasi penyelenggaraan seminar nasional ini. Jawa Timur memang menjadi salah satu pusat industri Indonesia, dan keberlanjutan daya saing industri akan sangat bertumpu pada para praktisi teknik industri,” ujarnya. Wagub Emil menjelaskan bahwa persaingan global di dunia manufaktur semakin ketat. Oleh karena itu, pelaku industri di Jawa Timur harus terus berbenah melalui berbagai upaya optimasi, termasuk penerapan teknologi dalam revolusi industri 3.0 dan 4.0, otomatisasi, digitalisasi, hingga peningkatan konektivitas. Jika tidak, industri lokal dikhawatirkan tidak mampu bersaing dengan negara lain. “Kita melihat di Asia Tenggara, Vietnam sudah menjadi negara yang semakin industrialized. Karena itu, Jawa Timur harus terus mendorong peningkatan kualitas sektor industri, dan pilar terpentingnya adalah sumber daya manusia, khususnya praktisi teknik industri yang diwadahi PII,” tegas Emil. Ia menilai seminar nasional yang digelar di ITS ini menjadi titik awal yang baik bagi kolaborasi yang lebih erat antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan PII. Ke depan, Emil mendorong adanya pertemuan tripartit antara pemerintah, PII dan akademisi, serta dunia usaha untuk membangun strategi peningkatan daya saing industri secara komprehensif. “Kita perlu rembug bersama agar pabrik-pabrik di Jawa Timur benar-benar mampu mengoptimalkan peran insinyur profesional. Setelah ini mungkin perlu pertemuan tripartit antara pemerintah, PII/akademisi, dan dunia usaha untuk melihat potensi yang bisa dikerjakan bersama,” tambahnya. Ia memaparkan bahwa struktur industri Jawa Timur saat ini masih didominasi sektor makanan dan minuman, disusul industri tembakau, serta sektor kimia dan farmasi yang mulai berkembang pesat. Menurutnya, setiap sektor ini memiliki peluang besar jika dipadukan dengan penguatan rantai pasok, peningkatan kompetensi insinyur, serta inovasi berkelanjutan. Dengan adanya kolaborasi lintas sektor tersebut, Wagub Emil optimistis bahwa Jawa Timur dapat terus memperkuat produktivitas industri sekaligus menjaga daya saing di tengah persaingan global yang semakin dinamis.
