Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Provinsi Jawa Timur menggelar talkshow Productivity Goes to Campus dengan tema “Peran Strategis Supply Chain & Logistik dalam Meningkatkan Produktivitas Nasional”. Acara ini berlangsung di Auditorium Sekolah Interdisiplin Manajemen dan Teknologi ITS, Jl. Cokroaminoto 12A Surabaya dan menghadirkan mahasiswa, akademisi, serta para pelaku industri pada Kamis 27 November 2025.
Ketua PII Jawa Timur, Dr. Ir. Gentur Prihantono, SP.SH.MT. MH. IPU, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi momentum pembukaan Badan Kejuruan (BK) Industri Wilayah Jawa Timur. Ia menilai Jawa Timur memiliki potensi besar karena menjadi rumah bagi 961 industri besar, sehingga membutuhkan wadah koordinasi dan peningkatan kompetensi para insinyur di bidang industri.

“Agenda hari ini intinya ingin membuka BK Industri Wilayah Jawa Timur. Karena Jatim memiliki hampir seribu industri besar, maka penting adanya pembukaan BK di daerah agar lebih dekat dengan kebutuhan dunia industri,” ujarnya.
Gentur menjelaskan, selain pembukaan BK Industri, kegiatan ini juga diisi dengan penandatanganan MoU terkait penyerahan sebagian tugas organisasi serta penguatan kerja sama antara PII, perguruan tinggi, dan dunia industri. Ia berharap jurusan-jurusan teknik industri di perguruan tinggi dapat terlibat aktif dalam pengembangan supply chain, logistik, dan manajemen industri yang lebih maju.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki keunggulan dari sisi sumber daya manusia, prasarana, hingga potensi material. Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat sektor industri melalui kerja sama dengan berbagai asosiasi termasuk ABINDO.
“Pemerintah terus mendorong, baik di pusat maupun provinsi. Karena itu, penting sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan PII sebagai organisasi profesi insinyur untuk memperkuat SDM industri,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa kolaborasi antara insinyur dan pelaku industri harus terus berlanjut, terutama dalam memahami kondisi nyata industri seperti rantai pasok material, pengelolaan limbah, dan persoalan teknis lainnya. Dengan demikian, insinyur dapat memberikan solusi yang relevan dan berbasis kebutuhan lapangan.
“Industri butuh insinyur, dan insinyur butuh industri. Harapan saya, mereka yang bekerja di industri bisa ikut terlibat dalam dunia keinsinyuran agar terjadi saling memahami. Banyak persoalan seperti packaging, rantai pasok, hingga limbah yang harus dibahas bersama,” jelas Gentur.
Acara talkshow ini menjadi ruang dialog penting untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan calon insinyur mengenai tantangan nyata di sektor supply chain dan logistik, sekaligus memperkuat produktivitas nasional melalui sinergi akademisi, industri, dan organisasi profesi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan seminar nasional yang diinisiasi Badan Kejuruan Teknik Industri Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Ia menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan salah satu pusat industri terbesar di Indonesia sehingga kegiatan semacam ini menjadi sangat relevan untuk memperkuat daya saing daerah.
“Wakil Ibu Gubernur mengapresiasi penyelenggaraan seminar nasional ini. Jawa Timur memang menjadi salah satu pusat industri Indonesia, dan keberlanjutan daya saing industri akan sangat bertumpu pada para praktisi teknik industri,” ujarnya.
Wagub Emil menjelaskan bahwa persaingan global di dunia manufaktur semakin ketat. Oleh karena itu, pelaku industri di Jawa Timur harus terus berbenah melalui berbagai upaya optimasi, termasuk penerapan teknologi dalam revolusi industri 3.0 dan 4.0, otomatisasi, digitalisasi, hingga peningkatan konektivitas. Jika tidak, industri lokal dikhawatirkan tidak mampu bersaing dengan negara lain.
“Kita melihat di Asia Tenggara, Vietnam sudah menjadi negara yang semakin industrialized. Karena itu, Jawa Timur harus terus mendorong peningkatan kualitas sektor industri, dan pilar terpentingnya adalah sumber daya manusia, khususnya praktisi teknik industri yang diwadahi PII,” tegas Emil.
Ia menilai seminar nasional yang digelar di ITS ini menjadi titik awal yang baik bagi kolaborasi yang lebih erat antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan PII. Ke depan, Emil mendorong adanya pertemuan tripartit antara pemerintah, PII dan akademisi, serta dunia usaha untuk membangun strategi peningkatan daya saing industri secara komprehensif.
“Kita perlu rembug bersama agar pabrik-pabrik di Jawa Timur benar-benar mampu mengoptimalkan peran insinyur profesional. Setelah ini mungkin perlu pertemuan tripartit antara pemerintah, PII/akademisi, dan dunia usaha untuk melihat potensi yang bisa dikerjakan bersama,” tambahnya.
Ia memaparkan bahwa struktur industri Jawa Timur saat ini masih didominasi sektor makanan dan minuman, disusul industri tembakau, serta sektor kimia dan farmasi yang mulai berkembang pesat. Menurutnya, setiap sektor ini memiliki peluang besar jika dipadukan dengan penguatan rantai pasok, peningkatan kompetensi insinyur, serta inovasi berkelanjutan.
Dengan adanya kolaborasi lintas sektor tersebut, Wagub Emil optimistis bahwa Jawa Timur dapat terus memperkuat produktivitas industri sekaligus menjaga daya saing di tengah persaingan global yang semakin dinamis.



