Skip to main content

Pigora News Jatim

Nasdem Jatim Perkuat Konsolidasi, Mohammad Nasih Aschal Optimistis Hadapi Pemilu Mendatang

SURABAYA – Ketua Fraksi NasDem DPRD Jawa Timur, Mohammad Nasih Aschal, menghadiri kegiatan halal bihalal yang digelar pada Selasa, 21 April 2026, di Surabaya. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi Partai NasDem untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat konsolidasi internal menghadapi agenda politik ke depan. Dalam keterangannya, Nasih yang hadir bersama seluruh anggoranya tersebut menegaskan bahwa halal bihalal tidak hanya sekadar tradisi pasca-Idulfitri, tetapi juga menjadi ajang strategis untuk menyatukan langkah seluruh kader partai. Ia menyebut, konsolidasi harus dilakukan sejak dini sebagai bentuk kesiapan menghadapi pemilu mendatang. “Halal bihalal ini sekaligus menjadi momentum konsolidasi. Kita harus mempersiapkan semuanya sejak awal menuju pemilu yang akan datang. Konsolidasi seperti ini memang rutin dilakukan,” ujarnya. Menurutnya, kehadiran Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, dalam kegiatan tersebut turut memberikan suntikan semangat bagi seluruh kader di Jawa Timur. Nasih mengaku optimistis bahwa berbagai target politik partai dapat dicapai jika dipersiapkan dengan matang sejak sekarang. Ia juga menekankan bahwa Jawa Timur memiliki peran strategis sebagai salah satu lumbung suara nasional bagi Partai NasDem. Oleh karena itu, diperlukan kerja keras dan strategi yang lebih optimal untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan perolehan suara. “Jawa Timur mendapat perhatian khusus dari Pak Surya sebagai lumbung suara nasional dan motor utama. Ini menjadi tugas besar yang harus kita optimalkan ke depan,” jelasnya. Lebih lanjut, Nasih menyampaikan bahwa upaya pemenangan tidak bisa dilepaskan dari pendekatan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ia menilai, komunikasi dengan berbagai elemen, termasuk tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU), menjadi langkah penting dalam memperkuat basis dukungan di Jawa Timur. “DPP sudah mulai membangun komunikasi yang baik dengan para tokoh NU. Ini sinyal positif dan harus diikuti seluruh kader untuk menjalin komunikasi dengan seluruh elemen masyarakat,” tambahnya. Nasih juga menyoroti pentingnya evaluasi capaian pemilu sebelumnya sebagai bahan perbaikan ke depan. Ia menegaskan, target perolehan suara harus lebih baik dibandingkan periode sebelumnya, sehingga seluruh jajaran partai perlu bekerja lebih maksimal. Selain itu, wilayah Madura disebutnya sebagai salah satu daerah yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perolehan kursi, baik di tingkat provinsi maupun nasional. Ke depan, potensi tersebut diharapkan dapat terus dioptimalkan melalui strategi yang tepat. Dengan konsolidasi yang terus diperkuat dan komunikasi yang semakin luas dengan berbagai pihak, Dirimya optimistis mampu meningkatkan capaian politiknya pada pemilu mendatang.

Halal Bihalal NasDem Jatim, Perkuat Persaudaraan dan Komitmen Perubahan

Surabaya – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Jawa Timur menggelar kegiatan Halal Bihalal pada Selasa, 21 April 2026, di Surabaya. Acara tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum Surya Paloh bersama jajaran pengurus DPP Partai NasDem. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta para pengurus DPC Partai NasDem dari seluruh kabupaten/kota se-Jawa Timur. Dalam sambutannya, Ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur Lita Machfud Arifin menyampaikan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang kebersamaan untuk saling memahami, menguatkan, dan meneguhkan kembali komitmen perjuangan partai. Ia juga menyampaikan momentum peringatan Hari Kartini yang bertepatan dengan kegiatan tersebut. Lita menyampaikan penghormatan kepada seluruh perempuan Indonesia yang terus berjuang, berkarya, dan mengambil peran strategis dalam pembangunan bangsa, termasuk kader perempuan NasDem di Jawa Timur. “Semangat Kartini harus terus kita hidupkan, perempuan harus berani bermimpi, berjuang, dan mengambil peran penting dalam membangun bangsa,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, Lita juga menyampaikan apresiasi dan rasa hormat atas kehadiran Ketua Umum Surya Paloh di Jawa Timur. Menurutnya, kehadiran pimpinan pusat menjadi suntikan semangat bagi seluruh kader untuk semakin optimistis menatap masa depan perjuangan partai. Ia mengungkapkan, saat ini Partai NasDem di Jawa Timur memiliki kekuatan yang terus berkembang, dengan tujuh anggota DPR RI, sepuluh anggota DPRD provinsi, serta 140 anggota DPRD kabupaten/kota.“Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti kerja keras kader, militansi struktur, dan kepercayaan rakyat kepada Partai NasDem,” tegasnya. Namun demikian, capaian tersebut disebutnya bukan sebagai titik akhir, melainkan pijakan untuk melompat lebih tinggi. DPW NasDem Jawa Timur menargetkan pada Pemilu 2029 mendatang, Jawa Timur dapat menjadi lumbung suara utama Partai NasDem secara nasional. Lita juga menegaskan komitmen NasDem Jawa Timur untuk bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung pembangunan daerah. Ia menyatakan bahwa partainya siap mendukung langkah-langkah gubernur dalam mewujudkan Jawa Timur yang lebih maju dan sejahtera. “Kami percaya, keberhasilan pembangunan Jawa Timur tidak lepas dari peran dan kerja nyata kader NasDem di seluruh daerah. Karena itu, sinergi antara pemerintah, partai, dan masyarakat harus terus diperkuat,” ujarnya. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya soliditas dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di bidang ekonomi, sosial, maupun politik. Menurutnya, kekuatan utama partai terletak pada soliditas struktur, gerakan, serta konsistensi dalam menjaga idealisme. “Sejak awal berdiri, NasDem memilih jalan perubahan. Jalan ini memang tidak mudah, tetapi dengan konsistensi dan keberanian, kami yakin kepercayaan rakyat akan terus terjaga,” katanya. Menutup sambutannya, Lita mengajak seluruh kader untuk menjadikan momentum Halal Bihalal sebagai ajang mempererat persaudaraan, memperkuat loyalitas, serta meningkatkan kerja-kerja nyata di tengah masyarakat. “Dengan kebersamaan dan keteguhan hati, Jawa Timur akan menjadi basis kekuatan NasDem yang semakin besar dan bermartabat,” pungkasnya.

Sekjen OPOP M. Ghofirin: Santri Harus Siap Secara Ekonomi, Bukan Hanya Ilmu Agama

Surabaya – Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur terus diperkuat melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan yang digelar pada Selasa, 21 April 2026 di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri ratusan undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus pondok pesantren, akademisi, hingga perwakilan perbankan dan instansi terkait. Sekretaris OPOP Jawa Timur, Moch. Ghofirin, menyampaikan pentingnya penguatan kewirausahaan di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya mencetak santri yang mandiri secara ekonomi. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi (Rakor) OPOP yang digelar di Surabaya. Dalam pemaparannya, Gus Ghofirin menyebut bahwa selama ini mayoritas pesantren masih berfokus pada penguatan ilmu keagamaan seperti mencetak dai, kiai, dan guru ngaji. Namun, sejak hadirnya program OPOP, orientasi tersebut mulai diperluas dengan menyiapkan santri agar memiliki kemampuan ekonomi setelah lulus dari pesantren. “Santri tidak hanya dipersiapkan menjadi dai atau guru ngaji, tetapi juga harus memiliki kemandirian ekonomi. Jangan sampai setelah boyong dari pesantren, mereka kebingungan menentukan langkah,” ujarnya. Ia mencontohkan fenomena di lapangan, di mana tidak semua alumni pesantren dapat terserap di dunia kerja. Kondisi ini mendorong sebagian dari mereka untuk berwirausaha secara mandiri, meskipun seringkali dilakukan karena keterpaksaan, bukan karena kesiapan. Karena itu, Ghofirin mendorong seluruh pesantren peserta OPOP untuk mulai memasukkan kurikulum kewirausahaan, baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Menurutnya, pendidikan kewirausahaan perlu menjadi bagian penting yang terintegrasi dengan kurikulum pesantren. “Kalau memungkinkan, masukkan dalam kurikulum formal. Jika belum, bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler atau minimal membentuk komunitas entrepreneur di pesantren,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi sejumlah pesantren yang mulai memasukkan program kewirausahaan dalam brosur penerimaan santri baru. Menurutnya, hal ini menjadi nilai tambah yang menarik bagi wali santri, karena selain mendapatkan ilmu agama, para santri juga dibekali keterampilan praktis. Lebih lanjut, Ghofirin menyoroti perlunya perubahan pola pikir di lingkungan pesantren terhadap aktivitas bisnis santri. Ia mengaku pernah menemukan kasus santri yang justru mendapat sanksi ketika mencoba berjualan di lingkungan pesantren. Padahal, menurutnya, semangat kewirausahaan harus didorong dan difasilitasi. Ia menegaskan bahwa kisah Nabi Muhammad sebagai seorang pedagang sukses tidak cukup hanya menjadi cerita, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata di lingkungan pesantren. “Selama ini kisah kewirausahaan Nabi hanya menjadi cerita. Sekarang saatnya kita wujudkan dalam bentuk nyata melalui program santripreneur,” tegasnya. Melalui program OPOP, ia berharap ekosistem pesantren dapat berkembang tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Sedangkan Ketua Harian OPOP Jawa Timur yang juga Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa, dalam laporannya menyampaikan bahwa program pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren atau yang dikenal dengan ekotren OPOP terus menunjukkan perkembangan signifikan. Ia menjelaskan, sejak diluncurkan pada 2019 hingga pertengahan 2025, program ini telah menjangkau sebanyak 1.410 pesantren. Pada tahun 2026, jumlah tersebut ditargetkan bertambah sebanyak 200 pesantren peserta baru, yang terdiri dari 100 peserta hadir secara langsung dan 100 lainnya mengikuti secara daring. “Melalui pilar santripreneur, kami telah membina sebanyak 634.637 santri agar memiliki jiwa kewirausahaan melalui pelatihan, pengenalan bisnis, hingga penguatan keterampilan vokasional,” ujarnya. Selain itu, pada pilar sociopreneur, OPOP juga telah membentuk 1.790 pelaku usaha alumni pesantren yang berkolaborasi dengan pondok pesantren dan masyarakat. Hingga kini, sebanyak 18 kabupaten/kota di Jawa Timur telah berkomitmen mendukung program ini dengan membentuk tim OPOP di daerah masing-masing. Tak hanya berkembang di tingkat regional, program OPOP Jawa Timur juga telah menjadi rujukan nasional dan direplikasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Endy menambahkan, implementasi program OPOP dilakukan melalui sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas. Kolaborasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kelembagaan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, hingga pemasaran. “Berbagai pihak telah berkontribusi aktif, di antaranya Bank Indonesia, Bank Jatim Syariah, serta sejumlah perguruan tinggi seperti ITS, Universitas Airlangga, UNUSA, UNESA, dan UNISMA,” jelasnya. Rakor ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi berbasis pesantren. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi serta sarana berbagi strategi melalui diskusi panel dan pemaparan materi dari para narasumber. Sebanyak 170 peserta tercatat mengikuti kegiatan ini, yang terdiri dari pesantren peserta OPOP, peserta terbaik periode 2019–2025, serta tim pengembang OPOP Jawa Timur. Endy berharap, melalui penguatan kolaborasi yang terus dibangun, program OPOP dapat semakin berkembang dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Semoga jejaring antar pesantren semakin kuat sehingga mampu mewujudkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi berbasis pesantren di Jawa Timur,” pungkasnya.

Endy Alim Abdi Nusa: Rakor OPOP Jatim, Komitmen Terus Perkuat Ekonomi Pesantren

Surabaya – Program One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur terus diperkuat melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Pengembangan yang digelar pada Selasa, 21 April 2026 di Surabaya. Kegiatan ini dihadiri ratusan undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus pondok pesantren, akademisi, hingga perwakilan perbankan dan instansi terkait. Ketua Harian OPOP Jawa Timur yang juga Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Endy Alim Abdi Nusa, dalam laporannya menyampaikan bahwa program pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren atau yang dikenal dengan ekotren OPOP terus menunjukkan perkembangan signifikan. Ia menjelaskan, sejak diluncurkan pada 2019 hingga pertengahan 2025, program ini telah menjangkau sebanyak 1.410 pesantren. Pada tahun 2026, jumlah tersebut ditargetkan bertambah sebanyak 200 pesantren peserta baru, yang terdiri dari 100 peserta hadir secara langsung dan 100 lainnya mengikuti secara daring. “Melalui pilar santripreneur, kami telah membina sebanyak 634.637 santri agar memiliki jiwa kewirausahaan melalui pelatihan, pengenalan bisnis, hingga penguatan keterampilan vokasional,” ujarnya. Selain itu, pada pilar sociopreneur, OPOP juga telah membentuk 1.790 pelaku usaha alumni pesantren yang berkolaborasi dengan pondok pesantren dan masyarakat. Hingga kini, sebanyak 18 kabupaten/kota di Jawa Timur telah berkomitmen mendukung program ini dengan membentuk tim OPOP di daerah masing-masing. Tak hanya berkembang di tingkat regional, program OPOP Jawa Timur juga telah menjadi rujukan nasional dan direplikasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Endy menambahkan, implementasi program OPOP dilakukan melalui sinergi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas. Kolaborasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kelembagaan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, hingga pemasaran. “Berbagai pihak telah berkontribusi aktif, di antaranya Bank Indonesia, Bank Jatim Syariah, serta sejumlah perguruan tinggi seperti ITS, Universitas Airlangga, UNUSA, UNESA, dan UNISMA,” jelasnya. Rakor ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan koordinasi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan ekonomi berbasis pesantren. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi serta sarana berbagi strategi melalui diskusi panel dan pemaparan materi dari para narasumber. Sebanyak 170 peserta tercatat mengikuti kegiatan ini, yang terdiri dari pesantren peserta OPOP, peserta terbaik periode 2019–2025, serta tim pengembang OPOP Jawa Timur. Endy berharap, melalui penguatan kolaborasi yang terus dibangun, program OPOP dapat semakin berkembang dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Semoga jejaring antar pesantren semakin kuat sehingga mampu mewujudkan kemandirian dan kedaulatan ekonomi berbasis pesantren di Jawa Timur,” pungkasnya.