Krista Exhibition akan Gelar Surabaya Printing Expo Pada 8–11 Juli 2026, Hadirkan 153 Peserta Dengan Inovasi Industri Percetakan dan Kemasan di Jawa Timur

Surabaya – Krista Exhibition Group menggelar konferensi pers menjelang pelaksanaan Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 pada Jumat (3/7/2026). Pameran industri percetakan terbesar di Jawa Timur tersebut akan berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Grand City Convex Surabaya dengan menghadirkan 153 perusahaan peserta yang menampilkan berbagai inovasi teknologi percetakan dan kemasan. CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, mengatakan penyelenggaraan SPE tahun ini menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan kebutuhan industri makanan dan minuman menjadi salah satu faktor utama yang mendorong berkembangnya industri kemasan dan percetakan, khususnya sektor printing packaging. “Pertumbuhan industri makanan dan minuman akan selalu diikuti peningkatan kebutuhan kemasan. Dampaknya tentu sangat besar terhadap industri percetakan, terutama printing untuk kemasan,” ujar Daud Salim. Ia menjelaskan, sebanyak 153 perusahaan peserta akan menampilkan beragam teknologi terbaru, mulai dari digital printing, teknologi percetakan industri, packaging decoration, promotional printing, hingga percetakan tekstil. Selain perusahaan besar, terdapat pula 10 pelaku UMKM yang turut memamerkan produk dan inovasinya dalam ajang tersebut. Menurut Daud, Surabaya Printing Expo menjadi bagian dari ekosistem industri percetakan nasional yang nantinya akan berlanjut pada penyelenggaraan All Printing Indonesia di Jakarta pada Oktober 2026 dengan skala yang lebih besar.Krista Exhibitions juga berencana memperluas penyelenggaraan SPE pada tahun 2027 dengan memanfaatkan hall baru Grand City Exhibition sehingga kapasitas pameran dapat ditingkatkan. Hall baru tersebut akan digunakan untuk menghadirkan tema-tema baru seperti desain kreatif dan teknologi industri percetakan, sementara mesin-mesin berat tetap ditempatkan di hall utama yang memiliki daya dukung lantai lebih besar. Daud menambahkan, pengunjung SPE tidak hanya berasal dari Jawa Timur, tetapi juga datang dari berbagai daerah seperti Aceh, Sumatera, Kalimantan Timur, Sulawesi hingga Indonesia Timur. “Surabaya Printing Expo telah menjadi magnet bagi pelaku industri percetakan dari berbagai wilayah Indonesia. Ini menunjukkan Surabaya semakin kuat sebagai pusat kegiatan industri dan bisnis,” katanya. Ke depan, Krista Exhibitions juga akan menjalin kolaborasi dengan berbagai asosiasi, termasuk BPPGI Jawa Timur, untuk menggelar workshop dan pelatihan bagi pelaku UMKM serta industri kecil menengah agar mampu meningkatkan daya saing melalui pemanfaatan teknologi percetakan. Sedangkan Mewakili Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Yudi Ariyanto menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026 yang dinilai sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kolaborasi dengan dunia usaha dan industri. Menurutnya, penyelenggaraan pameran berskala nasional tersebut semakin memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa pada Triwulan I Tahun 2026, ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 5,96 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen. Yudi juga menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan provinsi dengan skala ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa. Karena itu, penyelenggaraan Surabaya Printing Expo di Surabaya dinilai sangat strategis dalam mendukung aktivitas perdagangan, investasi, serta pengembangan industri nasional. Ia menjelaskan, berdasarkan struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi sekitar 31,45 persen, disusul sektor perdagangan dan pertanian. Di dalam sektor industri pengolahan tersebut terdapat subsektor percetakan dan reproduksi media yang memiliki peran penting dalam mendukung berbagai sektor industri lainnya. “Industri percetakan tidak hanya berkembang sebagai sektor tersendiri, tetapi juga menjadi penunjang bagi industri makanan dan minuman, farmasi, hingga berbagai sektor manufaktur lainnya, terutama dalam kebutuhan kemasan, label, dan media promosi,” ujarnya. Lebih lanjut, Yudi menyampaikan bahwa sekitar 99 persen pelaku industri percetakan di Jawa Timur merupakan usaha mikro dan kecil, sehingga pameran seperti Surabaya Printing Expo menjadi sarana strategis untuk memperluas akses teknologi, mempertemukan pelaku usaha dengan mitra bisnis, sekaligus meningkatkan daya saing industri lokal. Ia juga mengungkapkan bahwa industri percetakan Jawa Timur telah berkontribusi terhadap aktivitas ekspor maupun impor daerah. Dengan kontribusi tersebut, pengembangan industri percetakan diyakini akan semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. “Melalui kolaborasi antara pemerintah, penyelenggara pameran, asosiasi, dan pelaku industri, kami berharap Surabaya Printing Expo mampu memberikan dampak positif bagi perkembangan industri percetakan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Timur maupun Indonesia,” pungkasnya.
Sekda Prov Jatim: Ahli Gizi Berperan Strategis Sukseskan Program MBG dan Wujudkan Generasi Emas Indonesia

Surabaya, 3 Juli 2026 – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, menegaskan bahwa profesi ahli gizi memiliki peran yang sangat strategis dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045. Hal tersebut disampaikan Adhy Karyono saat mewakili Gubernur Jawa Timur membuka Temu Ilmiah Nasional (TIN) II Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) yang diselenggarakan DPP PERSAGI di Surabaya, Jumat (3/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri ribuan ahli gizi, akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, serta praktisi dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam sambutannya, Adhy mengapresiasi DPP PERSAGI, DPD PERSAGI Jawa Timur, panitia, sponsor, dan seluruh pihak yang telah berkolaborasi menyelenggarakan forum ilmiah tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, akademisi, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Adhy mengatakan, sejak Program Makan Bergizi Gratis dijalankan, keberadaan profesi ahli gizi semakin menunjukkan peran pentingnya dalam memastikan kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat, khususnya peserta program MBG. Tidak hanya memperhatikan keseimbangan gizi, ahli gizi juga berperan dalam mengawasi keamanan pangan, kualitas bahan baku, hingga proses pengolahan makanan agar memenuhi standar kesehatan. Ia mengungkapkan, hingga saat ini di Jawa Timur telah beroperasi sekitar 4.125 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani jutaan penerima manfaat, mulai dari siswa, santri, ibu hamil, ibu menyusui hingga balita. Menurutnya, seluruh layanan tersebut membutuhkan pendampingan tenaga ahli gizi agar kualitas makanan tetap terjaga dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Adhy juga menyampaikan bahwa prevalensi stunting di Jawa Timur terus menunjukkan tren penurunan. Ia optimistis angka tersebut akan semakin membaik dengan dukungan Program MBG yang didukung pengawasan dan standar gizi yang baik dari para ahli gizi. Selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, Program MBG juga dinilai memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Jawa Timur memiliki kapasitas besar dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan untuk program tersebut, mulai dari beras, telur, ayam, hingga komoditas pertanian lainnya. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar pasokan pangan tetap terjaga tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat. Menurut Adhy, Program MBG merupakan investasi sosial jangka panjang pemerintah untuk membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di masa depan. Oleh karena itu, ia berharap hasil Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI dapat melahirkan rekomendasi konkret bagi pemerintah dalam memperkuat kebijakan pembangunan kesehatan dan gizi nasional. “Mudah-mudahan dari pertemuan ilmiah ini lahir rekomendasi yang aplikatif untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat Indonesia. Peran PERSAGI sangat penting dalam memastikan setiap program pemenuhan gizi berjalan sesuai standar sehingga benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Adhy. Mengakhiri sambutannya, Adhy mengucapkan selamat mengikuti Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI kepada seluruh peserta serta mengajak para tamu dari berbagai daerah untuk menikmati potensi wisata dan kuliner Jawa Timur selama berada di Surabaya. Ia berharap forum tersebut semakin memperkuat kolaborasi dalam membangun masyarakat Indonesia yang sehat, bergizi, dan sejahtera.