SURABAYA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 pada Sabtu 29 November 2025 di Kantor PWM Jawa Timur, Surabaya. Acara berlangsung khidmat dengan dihadiri langsung oleh Sekretaris PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia Abdul Mu’ti serta ribuan peserta diantaranya dari pimpinan persyarikatan, ortom, serta para tokoh Muhammadiyah se-Jatim. Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.A. turut memberikan sambutan melalui sambungan virtual.

Dalam kesempatannya, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. H. Sukadiono, M.M., menegaskan bahwa Milad Muhammadiyah ke-113 menjadi momentum penting bagi PWM Jatim untuk melakukan transformasi besar, baik secara internal maupun eksternal. Hal itu ia sampaikan dalam rangkaian peringatan milad persyarikatan.
Sukadiono mengungkapkan bahwa arahan Ketua Umum PP Muhammadiyah menjadi dasar PWM Jatim dalam merancang agenda perubahan. Pada aspek internal, PWM Jatim akan fokus pada tiga sektor utama: perbaikan sistem birokrasi, penguatan manajemen keuangan, dan peningkatan kualitas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
PWM Jatim, yang membina 38 rumah sakit Muhammadiyah–‘Aisyiyah dengan berbagai kelas, menargetkan peningkatan mutu secara bertahap. Rumah sakit kelas D akan ditingkatkan menjadi kelas C, sementara kelas C diupayakan naik ke kelas B melalui peningkatan layanan dan tata kelola.
“Transformasi itu salah satunya bagaimana rumah sakit kelas D kita tingkatkan menjadi kelas C, dan kelas C kita dorong menuju kelas B. Semua didorong lewat peningkatan kualitas layanan,” ujar Sukadiono.
Dalam bidang keuangan, PWM Jatim menekankan pentingnya sistem keuangan yang tersentralisir dan dapat diaudit secara profesional. Selama ini rumah sakit Muhammadiyah telah menggunakan auditor independen, namun PWM Jatim akan memperluas penerapan audit ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, terutama yang besar.
“Dengan auditor independen dan sistem keuangan yang terintegrasi, kita bisa mengetahui dengan jelas kualitas manajemen keuangan dan total aset Muhammadiyah di Jawa Timur, termasuk berapa fresh money yang dimiliki AUM,” jelasnya.
Digitalisasi juga menjadi agenda penting. Menurut Sukadiono, seluruh sistem perkantoran di tingkat daerah perlu beralih ke format digital untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi dengan PWM Jatim.
Tak hanya internal, PWM Jatim juga menyiapkan langkah eksternal berupa penguatan sektor ekonomi dan pendirian amal usaha baru yang akan menjadi ikon persyarikatan di Jawa Timur.
Sukadiono mengungkapkan bahwa sebelumnya PWM Jatim berencana mendirikan rumah sakit premium, namun rencana tersebut terhambat masalah perizinan. Karena itu, PWM Jatim kini mempertimbangkan pembangunan hotel berkelas sebagai alternatif yang dinilai lebih prospektif dan membanggakan.
“Karena perizinannya tidak memungkinkan, rencana rumah sakit premium akan kita ubah. Mungkin akan menjadi hotel yang representatif dan membanggakan bagi Muhammadiyah Jawa Timur. Ini bagian dari transformasi ekonomi yang kami dorong,” ujarnya.
Pada keeempatan tersebut, Ketua PWM Jatim menegaskan bahwa tiga langkah utama—perbaikan birokrasi, penguatan manajemen keuangan, dan digitalisasi—akan menjadi fokus PWM Jatim pada periode ini. Transformasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja organisasi sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah dalam pembangunan sosial dan ekonomi di Jawa Timur.



