SURABAYA — Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur pada Sabtu (29/11) menjadi momentum penting penyampaian pesan moral bagi persyarikatan. Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Prof. Abdul Mu’ti, menyampaikan tausiyah yang menekankan pentingnya kekompakan organisasi, semangat antikorupsi, pembaruan (tajdid), hingga urgensi kesalehan digital di era modern.

Di hadapan warga Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya merawat ukhuwah dan mengelola perbedaan secara dewasa. Menurutnya, perbedaan (ikhtilaf) merupakan bagian dari sunnatullah, namun perpecahan (tafarruq) tidak boleh terjadi dalam tubuh persyarikatan.
“Kita harus kompak. K-nya itu jangan konflik tapi kompak,” ujarnya menekankan.
Ia mengingatkan pentingnya menjadikan ayat Waktasimu bihablillahi jami’a wala tafarroqu sebagai landasan persatuan.

Pesan kedua yang ia tekankan adalah menjauhi praktik korupsi dalam bentuk apa pun. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa korupsi adalah pengkhianatan moral dan mencederai amanah yang diberikan masyarakat kepada Muhammadiyah.
Ia mengutip penafsiran Muhammad Asad tentang larangan la tufsidu fil ardh yang dimaknai sebagai “jangan membuat kerusakan atau korupsi di muka bumi”.
“Begitu Muhammadiyah itu korup, wassalam sudah,” tegasnya.
“Alhamdulillah masyarakat percaya kepada Muhammadiyah. Kalau nyumbang InsyaAllah amanah. Itu harus kita jaga.”
Menurutnya, integritas, akuntabilitas, serta governance yang bersih merupakan modal sosial terbesar bagi Muhammadiyah.
Pesan ketiga yang disampaikan Abdul Mu’ti adalah pentingnya menjaga ruh tajdid atau pembaruan yang menjadi identitas Muhammadiyah sejak awal berdiri.
“Identitas Muhammadiyah itu dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid. Jangan tajdidnya dipotong,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tanpa semangat pembaruan, Muhammadiyah akan tertinggal dan sulit menjawab tantangan zaman. Kreativitas dan kemampuan beradaptasi menjadi keharusan bagi seluruh kader dan amal usaha.
Dalam bagian lain tausiyahnya, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya meningkatkan kualitas serta kuantitas amal usaha Muhammadiyah yang selama ini menjadi motor layanan umat dalam pendidikan, kesehatan, dan sosial.
“Manusia itu tidak hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk ruhani. Karena itu Muhammadiyah berkomitmen membangun manusia seutuhnya,” ungkapnya.
Amal usaha, menurutnya, harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya warga Muhammadiyah.
Menjawab tantangan era digital, ia juga mengingatkan pentingnya literasi dan etika digital. Merujuk pada hasil survei Microsoft beberapa tahun lalu terkait rendahnya tingkat keadaban digital di Indonesia, Muhammadiyah pada Muktamar Surakarta telah menegaskan urgensi kesalehan digital.
“Kita harus menguasai dan menggunakan teknologi digital untuk hal yang bermanfaat, bertanggung jawab, dan santun. Jangan sampai teknologi justru menimbulkan masalah seperti perundungan digital,” tegasnya.
Ia mengajak orang tua, guru, dan generasi muda untuk lebih bijak dalam bermedia digital demi terwujudnya masyarakat yang damai, rukun, dan beradab.
Menutup tausiyah, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa kejujuran merupakan aset paling berharga bagi persyarikatan.
“Kalau orang sudah dikenal jujur, dia tidak perlu buku putih. Nabi Muhammad pun tidak punya buku putih, tetapi dipercaya karena kejujurannya,” ujarnya.
Ia berharap Muhammadiyah terus menjaga amanah, memperkuat persatuan, serta merawat tradisi tajdid sebagai ciri gerakan Islam berkemajuan.



