Pigora News Jatim

​Sinergi Akademisi dan Praktisi, Muslimat NU Kukuhkan Asosiasi Profesor serta Paralegal Sebagai Ujung Tombak Bagi Kaum Duafa Yang Buta Hukum

SURABAYA – Gedung Islamic Center Surabaya menjadi saksi sejarah penguatan peran perempuan NU dalam kancah intelektual dan advokasi sosial. Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU menggelar prosesi Pelantikan Asosiasi Profesor dan Inagurasi Paralegal Muslimat NU, yang dihadiri langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI serta Ketua Umum PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa pada Jumat 6 Februari 2026.

​Dalam laporannya, Ketua Panitia penyelenggara, Zahrotun Nihayah, menegaskan bahwa pembentukan Asosiasi Profesor Muslimat NU merupakan langkah strategis untuk mengamalkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat.

​”Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ikhtiar kolektif untuk mempertemukan kekuatan para akademisi dengan gerakan sosial Muslimat NU. Kami ingin para profesor tidak hanya terjebak dalam komunikasi ilmiah di ‘menara gading’, tetapi hadir nyata sebagai pendidik dan penggerak di tengah masyarakat,” ujar Zahrotun.

​Ia menambahkan bahwa memuliakan ilmu dan mengangkat derajat perempuan adalah fondasi utama untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai Rahmatan Lil Alamin.

​Data panitia menunjukkan potensi intelektual yang luar biasa di rahim Muslimat NU. Saat ini, terdata sebanyak 156 profesor yang berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta, baik umum maupun keagamaan, di seluruh Indonesia. Pada prosesi di Surabaya ini, sebanyak 83 profesor hadir secara langsung untuk dikukuhkan dalam kepengurusan asosiasi.

​Selain pengukuhan profesor, acara ini juga melakukan inagurasi terhadap para Paralegal Muslimat NU. Program ini mendapat antusiasme tinggi dengan jumlah peminat mencapai 11.000 hingga 20.000 peserta di seluruh Indonesia pada tahap awal.
​Berikut adalah rincian capaian program Paralegal:

-​Total Peserta Terpilih: Terdapat ribuan kader yang mengikuti proses aktualisasi.

-​Dominasi Jawa Timur: Provinsi Jawa Timur menjadi basis terbesar dengan 855 peserta.

-​Inagurasi Surabaya: Sebanyak 213 orang resmi dikukuhkan dalam acara ini.

​Zahrotun menyampaikan bahwa peran paralegal sangat krusial sebagai instrumen organisasi yang bersentuhan langsung dengan masalah hukum dan sosial di lapangan. “Paralegal diharapkan menjadi sahabat masyarakat yang memberikan solusi serta pendampingan demi menjaga harkat dan martabat, terutama bagi kaum perempuan,” lanjutnya.

Sebagai ​Pihak panitia dirinya juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Ibu Khofifah Indar Parawansa atas inisiasi besarnya dalam menyatukan kekuatan profesor dan paralegal ini. Sinergi ini diharapkannya mampu memberikan kekuatan baru bagi Muslimat NU dalam menjawab tantangan zaman dan kebutuhan umat secara inklusif.

Sedangkan ​Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur, Nyai Hj. Masruroh Wahid, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran 213 Paralegal yang diinagurasi hari ini merupakan jawaban atas jeritan masyarakat kecil. Banyak warga, khususnya ibu-ibu, yang menghadapi masalah hukum namun tidak tahu harus mengadu ke mana.

​”Tugas Anda sangat mulia. Di tengah masyarakat, banyak kaum doafa yang menghadapi masalah hukum tetapi tidak tahu bagaimana cara melapor atau meminta bantuan. Jika harus ke penasihat hukum profesional, harganya seringkali tidak terjangkau bagi mereka,” ujar Masruroh Wahid.

​Ia berharap para Paralegal ini dapat menjadi motivator dan inisiator di lapangan. “Semoga Anda menjadi sahabat yang mendampingi masyarakat, membantu memecahkan masalah yang dihadapi ibu dan anak pada khususnya,” tambahnya.

​Perempuan sebagai Pendiri Peradaban
​Mengutip esensi dari Surat Al-Alaq, Masruroh Wahid mengingatkan pentingnya membaca (Iqra) dalam arti luas—membaca gejala alam, kehidupan, dan kemajuan. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki kepekaan spiritual dan rohani yang luar biasa, yang menjadi kunci dalam membangun keragaman di Indonesia.

​”Sejarah membuktikan bahwa dalam setiap perjuangan Rasulullah SAW, peran perempuan tidak pernah absen. Perempuan memiliki kemampuan menerima hal-hal yang mungkin sulit dinalar secara logis namun mudah diterima dengan keteguhan iman dan hati,” jelasnya.

​Ia juga menyitir doa Rasulullah SAW untuk Sayyidah Aisyah RA agar menjadi perempuan yang cerdas dan mampu meriwayatkan ilmu bagi umat manusia. Semangat inilah yang diharapkan menular kepada para Profesor Muslimat NU agar terus mendidik tanpa memandang gender.

​Menyongsong Satu Abad NU
​Acara ini juga dimaknai sebagai bagian dari kado dan khidmah Muslimat NU menjelang perayaan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama yang akan dipusatkan di Sidoarjo dan Malang. Masruroh mengapresiasi inisiasi Khofifah Indar Parawansa yang telah menyelenggarakan acara luar biasa ini di Jawa Timur.

​”Kami sebagai tuan rumah merasa sangat terhormat. Semoga sinergi antara profesor dan paralegal ini memperkuat peradaban Muslimat NU yang Rahmatan Lil Alamin. Jika organisasi diisi dengan kebaikan, insyaAllah Allah akan memberikan rahmat, keberkahan umur, dan kemudahan rezeki bagi kita semua,” tutupnya dengan penuh doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *