Skip to main content

Pigora News Jatim

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Perkuat Gerakan Pilah Sampah dan Tanam Pohon

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 di Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Surabaya, Sabtu (6/6). Kegiatan yang diikuti tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pengelolaan sampah.
rehabilitasi lahan, serta penanaman pohon dan mangrove.


Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.


Menurutnya, kegiatan penanaman pohon merupakan bagian dari langkah promotif, sementara aksi bersih-bersih lingkungan menjadi bagian dari upaya kuratif untuk mengatasi dampak kerusakan lingkungan yang telah terjadi.


“Kalau bersih-bersih itu bagian dari kuratif, mm lsedangkan menanam merupakan langkah promotif. Semua harus berjalan beriringan agar lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.


Khofifah menjelaskan bahwa selama ini Pemprov Jatim konsisten melakukan rehabilitasi kawasan pesisir melalui program penanaman mangrove. Hampir seluruh kawasan pantai di Jawa Timur telah menjadi lokasi penanaman mangrove yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.


Bahkan tiga tahun terakhir, Pemprov Jatim rutin menyelenggarakan Festival Mangrove yang melibatkan perguruan tinggi, komunitas pecinta lingkungan, Forkopimda, serta berbagai elemen strategis lainnya.


Ia menyebut, berkat kolaborasi tersebut, sekitar 51 persen kawasan mangrove yang ada di Pulau Jawa berada di Jawa Timur.


“Semua pihak sangat kompak. Karena itu sekitar 51 persen hutan mangrove di Pulau Jawa berada di Jawa Timur,” katanya.


Selain program rehabilitasi lingkungan, Khofifah juga menyoroti keberhasilan inovasi Sekolah Ketahanan Pangan yang diusulkan dalam ajang Innovative Government Award (IGA).


Melalui program tersebut, area sekolah yang sebelumnya menjadi lokasi penumpukan sampah berhasil diubah menjadi lahan produktif untuk budidaya sayuran, buah-buahan hingga perikanan.
Sekolah yang memiliki keterbatasan lahan pun tetap dapat mengembangkan program tersebut melalui pemanfaatan polybag dan teknologi sederhana lainnya.


Menurut Khofifah, program tersebut tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi siswa dalam mengelola sampah menjadi pupuk yang bernilai manfaat.


“Halaman belakang sekolah yang dulu menjadi tempat penumpukan sampah kini berubah menjadi area produktif untuk menanam sayuran, buah-buahan maupun budidaya perikanan. Ini menjadi bagian dari pendidikan lingkungan dan ketahanan pangan,” jelasnya.


Dalam kesempatan itu, Khofifah juga menyoroti pentingnya percepatan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi pengelolaan sampah perkotaan.


Ia menilai pemerintah pusat perlu mempertimbangkan daerah dengan produksi sampah sekitar 500 ton per hari agar dapat masuk dalam program PSEL, tanpa harus menunggu mencapai kapasitas 1.000 ton per hari.


Menurutnya, proses pembangunan infrastruktur PSEL membutuhkan waktu yang panjang sehingga perencanaan harus dilakukan sejak dini.


“Kami berharap daerah-daerah seperti kawasan Mataraman Raya maupun Kediri Raya yang memiliki volume sampah sekitar 500 ton per hari sudah dapat dipertimbangkan masuk program PSEL agar persoalan sampah bisa segera ditangani,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Khofifah mengajak masyarakat untuk mulai melakukan pemilahan sampah dari lingkungan rumah tangga sebagai langkah preventif dalam menjaga lingkungan.


Ia menegaskan bahwa gerakan lingkungan tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.


“Mulailah dari rumah tangga. Memilah sampah merupakan bagian dari langkah preventif. Menanam adalah langkah promotif, bersih-bersih merupakan langkah kuratif, dan ketika ada lahan yang rusak maka kita lakukan rehabilitasi dengan menanam kembali,” tuturnya.


Menutup keterangannya, Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga lingkungan hidup demi mewujudkan Indonesia yang bersih, sehat, indah, dan berkelanjutan.


“Ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa agar Indonesia tetap sehat, bersih, resik, dan indah untuk generasi mendatang,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *