SURABAYA – SMK Negeri 12 Surabaya menggelar sosialisasi Program Bantuan Teaching Factory (TEFA), Program Sekolah Model Pembelajaran Mendalam, serta Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Surabaya dan Sidoarjo Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dr. Kiswanto, S.Pd., M.Pd.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Kiswanto menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program Teaching Factory di SMKN 12 Surabaya. Ia berharap program tersebut mampu menjadi bagian dari penguatan karakter dan keunggulan sekolah, sehingga SMKN 12 Surabaya memiliki ciri khas yang berbeda dibandingkan SMK lainnya di Jawa Timur, khususnya di Kota Surabaya.

“Saya mengapresiasi adanya Teaching Factory ini. Harapan kita, dengan TEFA ini nanti SMK 12 menjadi SMK yang berbeda dengan SMK di Jawa Timur, khususnya di Surabaya. SMK ini memiliki ciri khas khusus yang benar-benar berbeda, bermanfaat, dan memiliki nilai lebih bagi anak-anak kita,” ujar Kiswanto.
Menurutnya, keunggulan SMKN 12 Surabaya terletak pada karakter sekolah yang memiliki kekhasan di bidang seni dan keterampilan. Namun, seni yang dimaksud bukan hanya dalam pengertian seni secara umum, melainkan seni dalam pendidikan yang mampu mengembangkan berbagai potensi peserta didik.
“Keunggulannya unik karena ini adalah sekolah seni, tetapi seni pendidikan. Bukan hanya seni dalam arti seni, tetapi bagaimana pendidikan ini membawa sesuatu yang berbeda,” jelasnya.
Ia menilai, para siswa SMKN 12 Surabaya memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari seni suara, tari, hingga berbagai keterampilan lainnya. Kemampuan tersebut, kata dia, menjadi bekal penting bagi siswa untuk menghadapi masa depan.
“Anak-anak di sini selain kecerdasannya, juga memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan untuk masa depan. Ada seni suara, tari, dan banyak hal lainnya. Ini melatih keterampilan anak untuk kehidupan mereka di masa depan yang lebih baik,” imbuhnya.
Kiswanto juga menegaskan bahwa setiap sekolah memiliki keunggulan masing-masing. Namun, menurutnya, SMKN 12 Surabaya mempunyai sejumlah program dan kompetensi yang menjadi ciri khas tersendiri dan tidak banyak dimiliki oleh sekolah lain.
Ia juga menyoroti pentingnya cara pandang terhadap potensi peserta didik. Menurut Kiswanto, tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda sehingga tugas sekolah dan guru adalah membantu mengembangkan potensi tersebut secara optimal.
“Saya berprinsip tidak ada anak bodoh. Anak hanya perlu ditumbuhkan potensi yang ada di dalam dirinya. Tuhan sudah memberikan kelebihan kepada setiap anak, dan itulah yang harus dikembangkan oleh guru-guru di sini,” tegasnya.
Ia menambahkan, potensi peserta didik di SMKN 12 Surabaya sangat besar dan didukung oleh tenaga pendidik yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi tersebut.
Sementara itu, kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat memperkuat implementasi Teaching Factory, pembelajaran mendalam, serta pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial di SMKN 12 Surabaya. Program tersebut diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan zaman.
Melalui berbagai program tersebut, SMKN 12 Surabaya terus berupaya memperkuat identitasnya sebagai satuan pendidikan vokasi yang memiliki keunggulan dan kekhasan tersendiri, sekaligus mempersiapkan peserta didik menjadi generasi yang memiliki kompetensi, kreativitas, dan keterampilan untuk menghadapi tantangan masa depan menuju Generasi Emas 2045.
Sedangkan Kepala SMKN 12 Surabaya, Lilik Majidatut Zahro, M.Pd., menyampaikan bahwa program tersebut menjadi momen istimewa bagi sekolah. Pasalnya, tidak semua sekolah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program tersebut.

“Ini kegiatan yang sangat istimewa bagi kami. Kami menjadi salah satu SMK yang mendapatkan Teaching Factory, sehingga harus melaksanakan Program Sekolah Model dari Kementerian Pendidikan RI tahun 2026,” ujar Lilik.
Menurutnya, untuk mendapatkan program tersebut, SMKN 12 Surabaya harus melalui sejumlah tahapan seleksi dan penilaian. Proses tersebut meliputi telaah sekolah, telaah pendidikan, hingga penilaian dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Puspen).
Dalam proses tersebut, SMKN 12 Surabaya bahkan berhasil meraih peringkat ketiga secara nasional dalam penilaian Puspen. Capaian itu menjadi salah satu bukti bahwa sekolah seni juga mampu bersaing dan menunjukkan prestasi di tingkat nasional.
Lilik menjelaskan, salah satu kompetensi unggulan SMKN 12 Surabaya adalah Desain Komunikasi Visual (DKV). Kompetensi tersebut mendapat perhatian karena mampu menunjukkan kualitas pembelajaran dan karya siswa.
“DKV memang menjadi salah satu andalan kami. Meskipun kami dikenal sebagai sekolah seni, pengelolaan DKV dan animasi kami terus dikembangkan secara serius,” jelasnya.
Ia menambahkan, SMKN 12 Surabaya memiliki kekhasan tersendiri karena menggabungkan pendidikan seni dengan perkembangan teknologi. Salah satunya melalui kompetensi animasi dan DKV yang terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan industri kreatif di masa depan.
“Sekolah kami memang sekolah seni, tetapi untuk animasi dan DKV, kami terus berupaya memberikan yang terbaik. Ini menjadi keunikan kami,” imbuhnya.
Lilik mengatakan, program Sekolah Model Pembelajaran Mendalam dan Koding serta Kecerdasan Artifisial akan menjadi bagian penting dalam pengembangan pembelajaran di SMKN 12 Surabaya. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi guru dan siswa agar semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Selain fokus pada program pembelajaran, SMKN 12 Surabaya juga tengah mempersiapkan kunjungan tamu dari luar negeri. Dalam agenda tersebut, sekolah akan menampilkan berbagai potensi seni dan kreativitas siswa melalui presentasi serta pertunjukan kolaborasi.
Pertunjukan tersebut akan menggabungkan berbagai bidang seni, seperti seni musik, tari, karawitan, hingga orkestra. Bahkan, SMKN 12 Surabaya juga akan menampilkan gamelan dan pertunjukan seni pedalangan sebagai bagian dari kekayaan seni yang menjadi identitas sekolah.
Menurut Lilik, persiapan kegiatan tersebut dilakukan secara serius dengan melibatkan seluruh unsur sekolah. Ia menyebut Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur turut memberikan perhatian dan arahan dalam persiapan agenda tersebut.
“Anak-anak sudah kami sampaikan agar mendukung penuh kegiatan ini. Kami berharap mereka bisa menjadi yang terbaik dan ke depan dapat kembali dipercaya untuk menjadi utusan,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya proses pengimbasan program kepada seluruh guru. Sebelum diterapkan kepada siswa, para guru terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dan pelatihan mengenai pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial.
Menurutnya, proses pembekalan tersebut dilakukan secara bertahap. Kepala sekolah, pengawas, serta unsur kurikulum telah mengikuti rangkaian pelatihan, baik secara daring maupun luring.
“Sekarang ilmunya diimplementasikan kepada guru-guru. Setelah dari guru, baru kemudian diterapkan dan diimplementasikan kepada para siswa,” jelas Lilik.
Ia berharap, melalui program Teaching Factory dan Sekolah Model Pembelajaran Mendalam, Koding, serta Kecerdasan Artifisial, SMKN 12 Surabaya semakin mampu mengembangkan potensi siswa.
Dengan kekhasan sebagai sekolah seni yang memadukan kreativitas, keterampilan, teknologi, dan kecerdasan artifisial, SMKN 12 Surabaya berkomitmen melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan dan kreativitas yang dibutuhkan untuk menghadapi dunia kerja serta perkembangan industri kreatif di masa depan.


