Surabaya-Ketua Umum Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) sekaligus Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, memberikan apresiasi tinggi kepada Pengurus ALTI Jawa Timur atas inisiatif menyelenggarakan Sertifikasi Race Director dan Pelatih Lari Trail Indonesia Tingkat Dasar.
Hal tersebut disampaikannya saat memberi sambutan pada pembukaan Sertifikasi Race Director & Pelatih Lari Trail Indonesia Tingkat Dasar di Surabaya, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah bersejarah karena menjadi salah satu program sertifikasi pertama yang digelar ALTI untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di cabang olahraga lari trail.
Bima mengaku sengaja meluangkan waktu untuk menghadiri pembukaan kegiatan di tengah padatnya agenda kerja. Ia menilai program yang digagas ALTI Jawa Timur sangat penting dalam membangun fondasi pengembangan lari trail Indonesia.
“Jadwal saya sebenarnya sangat padat, tetapi saya sempatkan hadir karena kegiatan ini sangat keren dan sangat dibutuhkan. Saya memberikan apresiasi kepada Ketua ALTI Jawa Timur, Mas Fidrian Kusumadana, beserta seluruh panitia yang telah bekerja keras menghadirkan peserta dari berbagai provinsi. Ini adalah sejarah bagi ALTI,” ujar Bima.
Ia juga mengapresiasi antusiasme peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, tingginya minat mengikuti sertifikasi menunjukkan bahwa kebutuhan akan pelatih dan Race Director yang kompeten semakin besar seiring pesatnya perkembangan olahraga trail running.
Bima berharap langkah yang diawali ALTI Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi pengurus ALTI di provinsi lain. Pengurus Pusat ALTI, kata dia, siap mendorong penyelenggaraan program sertifikasi serupa di berbagai wilayah Indonesia untuk memperkuat standar penyelenggaraan event, meningkatkan kualitas pelatih, serta membangun ekosistem lari trail yang aman, profesional, dan berdaya saing.
Selain itu, dalam kesempatan tersebut Bima juga memaparkan perkembangan pesat ALTI sejak kepengurusan pusat dilantik pada 7 Februari 2022. Saat itu ALTI belum memiliki kepengurusan daerah maupun pengakuan organisasi secara luas. Kini, ALTI telah berkembang hingga memiliki kepengurusan di 24 provinsi, sukses menggelar dua Kejuaraan Nasional (Kejurnas), mengikuti tiga kejuaraan dunia, serta tengah mempersiapkan cabang olahraga lari trail menuju PON NTB-NTT 2028.
Menurutnya, popularitas olahraga trail running yang terus meningkat harus diimbangi dengan peningkatan kualitas atlet maupun penyelenggara agar tidak menimbulkan persoalan keselamatan.
“Lari trail sekarang bukan hanya diterima masyarakat, tetapi sudah menjadi olahraga yang digandrungi. Namun jangan sampai orang hanya ikut-ikutan karena tren atau FOMO (fear of missing out), tanpa memahami risiko dan persiapan yang harus dilakukan,” katanya.
Bima menilai terdapat dua aspek utama yang harus menjadi perhatian ALTI, yakni peningkatan kualitas atlet dan profesionalisme penyelenggaraan event.
Dari sisi atlet, ia menegaskan bahwa pelari trail harus memiliki kesiapan fisik, mental, serta kemampuan menghadapi kondisi darurat di alam bebas. Berbeda dengan lari di jalan raya, olahraga trail memiliki tingkat risiko yang jauh lebih tinggi karena medan pegunungan menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari cuaca ekstrem, medan sulit, hingga potensi gangguan satwa liar.
Sementara dari sisi penyelenggaraan, ia meminta seluruh Race Director mampu menerapkan standar keselamatan yang ketat, mulai dari sistem mitigasi risiko, layanan medis, komunikasi lapangan, hingga manajemen perlombaan.
“Kita tidak ingin lagi mendengar ada event yang bermasalah karena penyelenggaraannya asal-asalan. Setiap event harus memiliki standar keselamatan yang jelas agar peserta merasa aman dan olahraga ini semakin dipercaya masyarakat maupun sponsor,” tegasnya.
Bima juga menyoroti semakin banyak pemerintah daerah yang mulai menggelar event lari trail sebagai bagian dari promosi daerah dan sport tourism. Namun ia mengingatkan agar setiap kegiatan disiapkan secara profesional, bukan sekadar mengejar gengsi atau seremoni.
Menurutnya, event lari trail yang dikelola dengan baik tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata olahraga.
“Kalau atletnya siap, penyelenggaraannya profesional, maka bukan hanya prestasi yang lahir. Event lari trail juga mampu memutar roda ekonomi daerah melalui sport tourism. Potensi Indonesia sangat besar karena memiliki banyak kawasan alam yang luar biasa untuk trail running,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Bima Arya menegaskan komitmen Pengurus Pusat ALTI untuk memperluas program sertifikasi Race Director dan pelatih ke berbagai wilayah Indonesia. Ia berharap semakin banyak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan sertifikasi resmi sehingga kualitas penyelenggaraan event trail running di Tanah Air terus meningkat.
“Kami akan mendorong agar kegiatan sertifikasi seperti ini dapat dilaksanakan di berbagai provinsi. Tujuannya membangun ekosistem lari trail Indonesia yang aman, profesional, berprestasi, sekaligus memberikan manfaat bagi perkembangan sport tourism nasional,” pungkasnya.


