SURABAYA – Pameran industri makanan, minuman, perhotelan, dan jasa boga terbesar di Jawa Timur, EastFood Indonesia (EastFood) 2026 kembali digelar dengan skala yang lebih besar dan beragam kegiatan pendukung. Pameran yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions tersebut berlangsung selama empat hari, mulai 18 hingga 21 Juni 2026 di Grand City Convex Surabaya.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan EastFood Indonesia tahun ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya memanfaatkan dua lantai area pameran sekaligus, yakni lantai dasar dan lantai tiga yang saling terkoneksi.

Menurut Daud, EastFood Indonesia telah menjadi agenda tahunan yang konsisten diselenggarakan selama 16 tahun di Surabaya dan terus berkembang sebagai wadah strategis bagi pelaku industri makanan dan minuman nasional.
“Tahun ini EastFood menggunakan dua lantai karena antusiasme peserta yang sangat tinggi. Ini merupakan penyelenggaraan ke-16 di Surabaya dan menjadi bagian dari komitmen Krista Exhibitions untuk terus mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman di Jawa Timur maupun Indonesia,” ujarnya.
Daud menjelaskan, sepanjang tahun 2026 Krista Exhibitions menggelar tiga pameran besar di Surabaya. Setelah EastFood Indonesia yang berlangsung pada 18–21 Juni, akan dilanjutkan dengan pameran teknologi pengemasan AllPack Surabaya pada 1–4 Juli 2026 dan Surabaya Printing Expo pada 8–11 Juli 2026.
“Biasanya kami hanya mengadakan dua pameran besar di Surabaya setiap tahun. Namun tahun ini menjadi tiga kali penyelenggaraan. Ini menunjukkan besarnya potensi pasar Jawa Timur sekaligus kepercayaan pelaku industri terhadap Surabaya sebagai pusat kegiatan bisnis di kawasan Indonesia Timur,” katanya.
Daud menuturkan, EastFood Indonesia 2026 diikuti oleh sekitar 180 peserta pameran yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 hingga 40 peserta merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk binaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan sejumlah daerah lainnya.
Keikutsertaan UMKM dalam pameran ini dinilai penting karena memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan bisnis, mempelajari perkembangan teknologi terbaru, serta meningkatkan daya saing produk mereka di pasar nasional maupun internasional.
Salah satu daya tarik baru dalam EastFood Indonesia 2026 adalah penyelenggaraan kompetisi kuliner dan pastry yang bekerja sama dengan Asosiasi Chef Profesional (ACP). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya menghadirkan sesi demonstrasi memasak, kali ini pengunjung dapat menyaksikan kompetisi dalam delapan kategori yang telah mendapat respons luar biasa dari para peserta.
“Antusiasmenya sangat tinggi. Bahkan beberapa kategori sudah penuh sebelum pelaksanaan. Kompetisi ini mencakup berbagai jenis masakan khas Indonesia, pastry bakery, hingga kreasi pizza dengan cita rasa Indonesia,” jelas Daud.
Tidak hanya itu, EastFood Indonesia 2026 juga menghadirkan chef profesional asal Italia yang akan berbagi pengalaman dan pengetahuan seputar pembuatan pizza autentik. Selain kompetisi, berbagai seminar, workshop, talkshow, dan demonstrasi produk juga digelar sepanjang pameran bekerja sama dengan berbagai asosiasi industri.
Daud berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi sekaligus inspirasi bagi pelaku usaha makanan dan minuman untuk terus berinovasi menghadapi perkembangan pasar.
“Selama empat hari pengunjung akan mendapatkan banyak wawasan baru melalui workshop, seminar, talkshow, hingga kompetisi. Kami ingin EastFood tidak hanya menjadi ajang transaksi bisnis tetapi juga pusat pembelajaran dan pengembangan industri,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Yudi Arianto, menyampaikan apresiasi atas konsistensi Krista Exhibitions yang selama bertahun-tahun menghadirkan pameran industri berskala nasional di Surabaya.

Menurutnya, keberadaan EastFood Indonesia memiliki peran strategis dalam memperkuat sektor industri pengolahan yang menjadi tulang punggung perekonomian Jawa Timur.
Yudi mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026 mencapai 5,96 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen. Kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur berasal dari sektor industri pengolahan dengan porsi mencapai 31,45 persen.
“Di dalam sektor industri pengolahan tersebut, industri makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar. Karena itu penyelenggaraan EastFood Indonesia sangat relevan dengan struktur ekonomi Jawa Timur,” ujarnya.
Ia menambahkan, nilai PDRB industri makanan dan minuman Jawa Timur pada tahun 2025 mencapai sekitar Rp451 triliun. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2021 yang tercatat sekitar Rp290 triliun.
“Artinya rata-rata pertumbuhan industri makanan dan minuman Jawa Timur mencapai sekitar 11,6 persen per tahun. Ini menunjukkan sektor tersebut memiliki prospek yang sangat menjanjikan dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah,” katanya.
Menurut Yudi, industri makanan dan minuman saat ini juga menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar di Jawa Timur. Oleh karena itu, kegiatan seperti EastFood Indonesia memiliki dampak ekonomi yang luas karena tidak hanya mempertemukan pelaku usaha besar dan menengah, tetapi juga memberikan ruang promosi bagi UMKM.
“Kami mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengucapkan terima kasih atas penyelenggaraan kegiatan ini. Kami yakin EastFood Indonesia akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi Jawa Timur, tetapi juga bagi kawasan Indonesia Timur secara keseluruhan,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Haryo Bimo, yang menilai konsistensi Krista Exhibitions selama 16 tahun menjadi bukti nyata dukungan sektor swasta terhadap pengembangan UMKM.

Menurut Haryo, keberadaan pameran seperti EastFood Indonesia sangat sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendorong pelaku usaha mikro agar naik kelas menjadi usaha kecil dan menengah yang lebih kompetitif.
Saat ini, kata Haryo, jumlah UMKM di Jawa Timur mencapai lebih dari 4,5 juta unit usaha dan sekitar 99 persen di antaranya masih didominasi oleh usaha mikro.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama bagaimana menghadirkan program dan kegiatan yang mampu membantu usaha mikro berkembang serta naik kelas. Event seperti EastFood Indonesia menjadi salah satu instrumen yang sangat efektif untuk mencapai tujuan tersebut,” ujarnya.
Haryo menilai pameran industri tidak hanya menjadi sarana promosi produk, tetapi juga mampu membangkitkan optimisme pelaku usaha di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. Melalui pameran ini, para pelaku UMKM dapat memperoleh wawasan baru, menemukan peluang pasar, memperluas jejaring bisnis, hingga menjalin kemitraan strategis.
“Event seperti ini memberikan insight dan inspirasi baru bagi para pelaku usaha. Mereka dapat melihat tren terbaru, teknologi baru, serta peluang kerja sama yang dapat mendorong pertumbuhan usaha mereka,” katanya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Haryo, akan terus mendorong UMKM binaan untuk berpartisipasi dalam berbagai pameran baik di dalam maupun luar daerah agar semakin banyak peluang bisnis yang dapat diraih.
Ia menegaskan bahwa pengembangan UMKM tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, melainkan membutuhkan sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan penyelenggara pameran.
“Kami sangat terbuka untuk berkolaborasi dengan Krista Exhibitions dalam mencari formula dan program terbaik bagi UMKM. Tujuannya agar pelaku usaha benar-benar merasakan bahwa pemerintah dan swasta hadir bersama untuk membantu mereka tumbuh dan berkembang,” ujarnya.
Dengan dukungan berbagai pihak, EastFood Indonesia 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran bisnis semata, tetapi juga menjadi katalisator bagi pertumbuhan industri makanan dan minuman, peningkatan daya saing UMKM, serta penguatan ekonomi Jawa Timur sebagai salah satu pusat industri pangan terbesar di Indonesia.


