SURABAYA – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. H. Rasiyo, M.Si., menyampaikan harapan agar peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk memperkuat keimanan, ketakwaan, serta meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda, khususnya para santri di tengah perkembangan teknologi digital.
Rasiyo mengatakan, Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda. Ia berharap anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
“Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT,” ujar Rasiyo saat menyampaikan pesan dalam momentum peringatan Hari Santri.
Menurutnya, kegiatan keagamaan di lingkungan pendidikan perlu terus didorong agar mampu membentuk karakter generasi muda. Ia menilai, pelaksanaan kegiatan keagamaan di sekolah-sekolah menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama sejak dini.
Rasiyo juga menyampaikan bahwa sekolah yang dikelolanya turut memberikan perhatian terhadap peringatan Hari Santri melalui berbagai kegiatan yang bernuansa keagamaan.
“Sekarang sekolah-sekolah sudah melaksanakan kegiatan keagamaan. Saya kira itu bagus. Saya juga punya sekolah, dan ketika Hari Santri, kami menyediakan kegiatan untuk memperingatinya,” ungkapnya.
Santri Harus Melek Teknologi dan Kecerdasan Buatan
Selain menekankan pentingnya keimanan dan pendidikan agama, Rasiyo mengingatkan bahwa santri saat ini juga perlu membekali diri dengan kemampuan teknologi informasi. Menurutnya, perkembangan zaman menuntut generasi muda, termasuk santri, untuk mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital.
Ia menyebut penguasaan teknologi informasi, mesin pencari seperti Google, hingga kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi keterampilan yang perlu dipelajari santri agar tidak tertinggal dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
“Sekarang ini era IT. Santri paling tidak harus menguasai AI, Google, dan sebagainya,” tegasnya.
Meski demikian, Rasiyo mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus disertai kemampuan memilah informasi. Menurutnya, internet menyediakan banyak pengetahuan yang bermanfaat, tetapi juga terdapat konten yang tidak sesuai untuk dijadikan rujukan maupun ditiru.
Karena itu, santri perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dan bijak dalam menggunakan teknologi. Informasi yang diperoleh melalui internet harus disaring berdasarkan manfaat, kebenaran, serta kesesuaiannya dengan nilai-nilai agama dan norma yang berlaku.
“Di dalam Google juga ada hal-hal yang kurang baik, jangan ditiru. Tetapi hal-hal yang baik bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuan berpikir,” jelasnya.
Menjaga Nilai Agama di Tengah Perkembangan Zaman
Rasiyo berharap, santri mampu mengembangkan potensi diri dengan memadukan pemahaman agama dan penguasaan ilmu pengetahuan. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan tidak hanya memiliki karakter religius, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan zaman dan berkontribusi bagi masyarakat.
Menurutnya, kemajuan teknologi seharusnya menjadi sarana pendukung pembelajaran, bukan justru menggeser nilai-nilai moral dan keagamaan yang telah ditanamkan melalui pendidikan di pesantren maupun sekolah.
Peringatan Hari Santri pun diharapkan dapat memperkuat semangat generasi muda untuk terus belajar, meningkatkan kualitas diri, serta memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Melalui perpaduan antara iman, ilmu pengetahuan, dan keterampilan digital, santri diharapkan mampu menjadi generasi yang berakhlak baik, adaptif terhadap perubahan, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Rasiyo menegaskan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya memahami agama, tetapi juga memiliki wawasan luas dan kemampuan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif. Dengan demikian, semangat Hari Santri dapat diwujudkan melalui pendidikan yang membentuk generasi beriman, berilmu, dan mampu memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.


