SURABAYA – Akademisi Elisa Rustya Agus Putri memberikan sosialisasi mengenai disleksia kepada tenaga pendidik di Smart Shin House Day Care pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini membahas pentingnya mengenali tanda-tanda kesulitan belajar pada anak, khususnya dalam perkembangan bahasa, kemampuan membaca, mengeja, dan menulis sejak usia prasekolah hingga awal sekolah.

Dalam paparannya, Elisa menyampaikan materi bertajuk Mengenal Tanda Kesulitan Belajar: Fokus pada Anak Usia Prasekolah dan Awal Sekolah. Materi tersebut mengulas karakteristik disleksia, tanda-tanda awal yang perlu diperhatikan, dampak terhadap perkembangan sosial dan emosional anak, serta pentingnya identifikasi dini dan pendampingan yang tepat.
Disleksia merupakan kesulitan belajar spesifik yang memengaruhi ketepatan dan kelancaran membaca, kemampuan mengenali kata, menghubungkan huruf dengan bunyi bahasa, serta mengeja. Anak dengan disleksia dapat membutuhkan usaha lebih besar untuk membaca dan menuliskan kata dibandingkan anak seusianya.

Elisa menjelaskan bahwa kesulitan tersebut tidak dapat dinilai hanya dari satu tanda. Pendidik perlu memahami perkembangan anak secara menyeluruh dan memperhatikan pola kesulitan yang muncul secara berulang dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Kenali Tanda-Tanda Disleksia Sejak Dini
Dalam materi sosialisasi, dijelaskan bahwa sejumlah tanda risiko disleksia dapat diamati sejak usia prasekolah. Di antaranya adalah keterlambatan perkembangan bicara (speech delay), kesulitan mengingat nama atau informasi yang sudah dikenal, kesulitan mengenali dan menyebutkan huruf, serta kesulitan membedakan kata-kata yang memiliki bunyi serupa.
Selain itu, beberapa anak mungkin mengalami kesulitan mengingat urutan, mengikuti instruksi verbal, menyelesaikan tugas dengan cepat, atau mengingat berbagai informasi dalam satu waktu.
Riwayat disleksia dalam keluarga juga menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan. Sementara itu, kesulitan koordinasi motorik halus, seperti saat memasang kancing, mengikat tali sepatu, mewarnai, dan menarik garis, dapat ditemukan pada sebagian anak, tetapi bukan merupakan karakteristik utama disleksia.
Ketika memasuki usia sekolah awal, kesulitan dapat terlihat lebih jelas karena tuntutan akademik meningkat. Anak mungkin menunjukkan kesulitan membaca, mengeja, menulis, mengingat informasi, dan mengatur kegiatan sekolah.
Dalam kemampuan membaca, anak dapat mengalami kesulitan memecah kata menjadi suku kata atau bunyi-bunyi kecil, menghubungkan huruf dengan bunyinya, serta menggabungkan bunyi untuk membentuk kata. Kondisi tersebut dapat membuat proses membaca menjadi lebih lambat dan membutuhkan usaha lebih besar.
Pada kemampuan menulis, beberapa kesulitan yang dapat muncul meliputi bentuk dan arah penulisan huruf yang belum tepat, kesalahan ejaan, penggunaan huruf kapital yang tidak sesuai, serta kesulitan membedakan huruf tertentu, seperti ‘b’ dan ‘d’.
Meski demikian, Elisa melalui materi yang dipaparkan juga menekankan pentingnya memahami bahwa tanda-tanda tersebut tidak bisa dijadikan dasar tunggal untuk menyimpulkan seorang anak mengalami disleksia. Identifikasi lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kebutuhan belajar anak secara tepat.
Kesulitan Belajar Juga Berkaitan dengan Aspek Sosial dan Emosional
Selain aspek akademik, sosialisasi tersebut menyoroti hubungan antara kesulitan membaca dan kondisi sosial-emosional anak.
Pengalaman berulang ketika mengalami kesulitan membaca atau menyelesaikan tugas dapat membuat anak merasa frustrasi, malu, cemas, dan kurang percaya diri. Anak juga dapat merasa berbeda dari teman-temannya atau menunjukkan keengganan mengikuti kegiatan membaca dan pembelajaran di sekolah.
Tekanan emosional tersebut perlu menjadi perhatian tenaga pendidik. Kesulitan belajar yang tidak dipahami dengan baik berpotensi membuat anak semakin tertekan ketika menghadapi tuntutan akademik.
Karena itu, anak membutuhkan lingkungan belajar yang mendukung, pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan individual, serta pendampingan yang tidak memberikan stigma atas kesulitan yang dialaminya.
Pemahaman terhadap kondisi anak menjadi penting agar pendidik dapat membedakan antara perilaku yang muncul akibat kesulitan belajar dan anggapan bahwa anak tidak mau berusaha atau tidak mampu mengikuti pembelajaran.
Pentingnya Identifikasi Dini dan Kolaborasi.
Dalam materi yang disampaikan, identifikasi dini menjadi salah satu bagian penting untuk membantu anak yang mengalami hambatan dalam kemampuan belajar dan literasi.
Tenaga pendidik memiliki peran dalam mengamati perkembangan anak, mengenali kesulitan yang muncul secara berulang, serta memantau respons anak terhadap bantuan atau strategi pembelajaran yang diberikan.
Apabila anak masih mengalami kesulitan, diperlukan tindak lanjut melalui asesmen oleh tenaga profesional. Materi tersebut menggambarkan keterlibatan guru dalam deteksi dan identifikasi awal, sedangkan dokter dan psikolog dapat berperan dalam asesmen sesuai kompetensi masing-masing. Terapis juga dapat memberikan intervensi berdasarkan kebutuhan anak.
Pendekatan kolaboratif diperlukan agar pendampingan tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga memperhatikan perkembangan bahasa, kemampuan memahami instruksi, keterampilan mengatur kegiatan, serta kondisi sosial dan emosional anak.
Identifikasi dini dan intervensi yang sesuai dapat membantu anak memperoleh dukungan lebih awal, terutama ketika tuntutan pembelajaran mulai meningkat.
Mendorong Lingkungan Belajar yang Mendukung Anak
Melalui sosialisasi di Smart Shin House Day Care, pemahaman mengenai disleksia menjadi materi penting bagi tenaga pendidik dalam mendampingi anak pada masa perkembangan awal.
Pengenalan terhadap tanda-tanda kesulitan belajar diharapkan dapat membantu pendidik lebih peka terhadap kebutuhan setiap anak. Dengan demikian, kesulitan membaca, mengeja, atau menulis tidak langsung dipandang sebagai bentuk kemalasan, melainkan menjadi hal yang perlu diamati dan dipahami lebih lanjut.
Setiap anak memiliki kebutuhan dan proses belajar yang berbeda. Oleh karena itu, dukungan yang tepat, identifikasi dini, serta kerja sama antara pendidik, keluarga, dan tenaga profesional menjadi bagian penting dalam membantu anak mengembangkan potensi dan kemampuan belajarnya secara optimal.


