PONOROGO — Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi NasDem, Mirza Ananta, menyerukan perhatian lebih dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pengembangan potensi seni, budaya, dan ekonomi kreatif di wilayah pedesaan, khususnya di Kabupaten Ponorogo. Hal itu ia sampaikan dalam acara Guyon Maton yang digelar di Lapangan Desa Tumpak Pelem, Selasa malam (11/11/2025).

Dalam sambutannya, Mirza menegaskan bahwa Desa Tumpak Pelem dan sekitarnya memiliki banyak pelaku seni dan budaya yang aktif berkarya namun belum mendapatkan dukungan memadai, terutama dari sisi pembinaan dan permodalan.
“Saya ingin mengenalkan Kecamatan Sawo, khususnya Desa Tumpak Pelem, kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Di sini banyak pelaku seni dan budaya yang kreatif, tapi mereka butuh uluran tangan pemerintah agar bisa berkembang dan lebih dikenal oleh masyarakat luas,” ujar Mirza.
Menurutnya, selama ini banyak seniman di pedesaan hanya berkarya secara mandiri dengan keterbatasan sumber daya. Karena itu, ia berharap kegiatan seperti Guyon Maton dapat menjadi jembatan bagi pemerintah untuk melihat langsung potensi seni budaya di daerah.
“Harapan saya, acara ini bisa menjadi perhatian bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur serta Ibu Gubernur, agar pelaku seni di desa-desa, tidak hanya di Tumpak Pelem tetapi di seluruh Ponorogo, mendapatkan pembinaan dan dukungan,” imbuhnya.
Mirza juga menyoroti dampak positif kegiatan seni dan budaya terhadap perekonomian lokal. Ia menilai bahwa setiap kali pergelaran semacam ini diadakan, para pelaku UMKM di sekitar lokasi turut merasakan manfaatnya melalui peningkatan penjualan.
“Coba lihat, banyak pedagang kopi, pedagang pentol, dan pedagang kecil lainnya yang ikut berjualan malam ini. Mereka mendapat kesempatan untuk menambah penghasilan. Kalau kegiatan seperti ini sering digelar, UMKM di Ponorogo akan semakin tumbuh,” katanya.
Ia menambahkan, pemerataan pembangunan dan kegiatan ekonomi kreatif di daerah menjadi salah satu kunci penting agar kesejahteraan masyarakat tidak hanya terpusat di kota, melainkan juga dirasakan hingga ke pelosok desa.
“Kalau di kota sering dapat perhatian dan dikenal, di desa jangan sampai tertinggal. Karena di sini banyak potensi yang luar biasa. Pemerintah provinsi perlu hadir dan memberi dukungan nyata,” tegasnya.
Selain mendorong perhatian terhadap pelaku seni dan UMKM, Mirza juga menyampaikan apresiasi kepada para seniman yang tetap semangat menghibur masyarakat meski dalam kondisi terbatas. Ia secara khusus menyoroti perjuangan grup campursari Cak Percil CS, yang terus konsisten melestarikan budaya Jawa Timur melalui hiburan rakyat.
“Cak Percil ini contoh nyata pelaku seni yang berdedikasi. Meski sempat sakit, beliau tetap tampil menghibur masyarakat. Semoga beliau selalu diberi kesehatan agar terus berkarya,” ujar Mirza.
Di akhir sambutannya, Mirza berharap kegiatan semacam ini dapat dijadikan agenda tahunan di Kecamatan Sawo. Selain memperkuat pelestarian budaya daerah, kegiatan ini juga diyakini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung.
“Kalau setiap tahun ada acara seperti ini, masyarakat akan semakin antusias, pelaku seni semakin dikenal, dan UMKM di desa pun ikut bergerak. Inilah bukti bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan,” pungkasnya.
Acara Guyon Maton yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur bersama DPRD Jatim tersebut berlangsung meriah dan disambut antusias oleh warga. Selain menjadi ajang hiburan rakyat, kegiatan ini juga menjadi wujud sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangkitkan potensi seni budaya serta ekonomi kreatif di daerah pedesaan.


