SURABAYA — Upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi generasi muda kembali diperkuat melalui Pelatihan bagi Pelatih atau Training of Trainers (ToT) tingkat regional yang digelar di Surabaya pada 17–19 November 2025. Kegiatan ini diikuti 36 peserta dari berbagai provinsi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan mengambil tema “Memenuhi Gizi Seimbang, Menjaga Keamanan Pangan, Mewujudkan Generasi Sehat dan Cerdas melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG)”.

Pelatihan ini berfokus pada peningkatan kapasitas fasilitator tingkat provinsi dalam memahami standar gizi dan keamanan pangan siap saji bagi para penjamah pangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sekaligus memperkuat edukasi gizi dan implementasi Program MBG di satuan pendidikan. Kegiatan berlokasi di Best Western Papilio, Surabaya, dan dihadiri para tamu undangan termasuk perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Gizi Nasional, serta UNICEF Wilayah Jawa di Surabaya.
Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan gizi pada kelompok rentan, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga remaja. Data Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan angka stunting balita mencapai 19,8 persen, wasting 7,4 persen, dengan prevalensi obesitas balita sebesar 3,4 persen. Masalah lain seperti anemia pada anak usia 5–14 tahun juga masih tinggi.
Untuk menjawab persoalan ini, pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029. Pada tahun 2025, program ini menargetkan menjangkau 82,9 juta jiwa termasuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta siswa mulai jenjang PAUD hingga SMA. Pelaksanaan program ini berpusat pada pembentukan 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai dapur penyedia makanan siap saji berskala besar.
ToT ini dirancang untuk memastikan para fasilitator memiliki pemahaman yang komprehensif dan terstandar mengenai standar gizi, keamanan pangan, teknik pengolahan makanan bergizi, hingga sanitasi lingkungan kerja. Selain itu, fasilitator juga dibekali keterampilan pedagogis agar mampu mengajarkan materi tersebut kepada penjamah pangan di SPPG, guru dan tenaga kependidikan di daerah masing-masing.
Materi pelatihan juga menekankan pentingnya peran sekolah dalam menjamin distribusi makanan MBG yang aman, berkualitas, dan tepat waktu. Guru dan tenaga UKS dibekali kemampuan mengawasi penyajian makanan, memberi edukasi gizi, hingga memotivasi siswa untuk mengonsumsi makanan secara bijak tanpa menyisakan makanan.
Kegiatan ToT ini memiliki beberapa tujuan utama, yakni: 1. Meningkatkan kapasitas fasilitator regional dalam melakukan pelatihan terintegrasi bagi penyelenggara SPPG dan pendidik di kabupaten/kota.
- Memperkuat pemahaman fasilitator terkait Standar Gizi dan Keamanan Pangan Siap Saji.
- Meningkatkan kemampuan fasilitator dalam memberikan pelatihan terkait implementasi MBG di satuan pendidikan.
- Mendorong fasilitator agar mampu mendampingi sekolah dalam menjalankan edukasi gizi yang efektif dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, pemerintah berharap implementasi Program MBG dapat berjalan lebih efektif, seragam, dan sesuai standar nasional. Dengan kapasitas fasilitator yang semakin kuat, SPPG dan sekolah sebagai lini depan pelaksanaan MBG diharapkan mampu menjaga kualitas makanan, keamanan pangan, serta edukasi gizi yang menunjang tumbuh kembang generasi muda Indonesia.


