SURABAYA – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Gigih Prihantono, S.E., M.SE, menegaskan bahwa secara fundamental perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik. Namun demikian, ia mengingatkan seluruh pelaku usaha dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap berbagai tantangan ekonomi global yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Gigih Prihantono saat menjadi narasumber dalam Seminar Check Point Ekonomi 2026: Strategi Bisnis Jatim di Tengah Dinamika Global yang diselenggarakan AMA Surabaya bekerja sama dengan Bank Sinarmas dan PT Sinarmas Asset Management, Kamis (13/8/2026) di Surabaya.
Menurut Gigih, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah kemampuan fiskal pemerintah dalam membiayai berbagai program prioritas nasional. Oleh karena itu, keseimbangan antara belanja negara dan keberlanjutan fiskal harus terus dijaga agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan secara sehat.
“Secara fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik. Namun kita tetap perlu berhati-hati dan waspada, terutama dalam melihat kekuatan fiskal untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah,” ujarnya.
Gigih juga menyoroti tantangan yang saat ini dihadapi dunia usaha, yakni melemahnya ekspektasi konsumen dan tekanan terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah. Kondisi tersebut menuntut pelaku usaha untuk lebih inovatif dalam mengembangkan produk dan strategi bisnis.
“Ketika daya beli masyarakat mengalami tekanan, pelaku usaha harus semakin kreatif. Produk harus tetap berkualitas, tetapi mampu dijangkau oleh konsumen,” katanya.
Sebagai akademisi yang aktif mengamati perkembangan ekonomi nasional, Gigih memberikan sejumlah rekomendasi kepada para pelaku usaha agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah pertama adalah meningkatkan efisiensi operasional dan memperbaiki sistem kerja yang belum optimal. Kedua, pelaku usaha harus mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) ke dalam proses bisnis mereka.
“AI jangan dianggap sebagai ancaman. Justru AI dapat membantu meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing perusahaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, bagi perusahaan yang memiliki aktivitas ekspor maupun impor, pengelolaan arus kas dan strategi lindung nilai (hedging) menjadi hal yang sangat penting untuk mengantisipasi gejolak ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar.
Tidak hanya menyampaikan pandangan bagi dunia usaha, Gigih juga memberikan pesan kepada generasi muda dan para pencari kerja. Menurutnya, perkembangan AI harus dijadikan peluang untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan, bukan sesuatu yang ditakuti.
“Siapa pun yang sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja harus mulai belajar dan beradaptasi dengan AI. Teknologi ini dapat menjadi alat untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuan profesional,” jelasnya.
Terkait kondisi perekonomian Jawa Timur, Gigih menilai provinsi ini masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Namun tantangan terbesar yang harus dijawab adalah penciptaan lapangan kerja yang lebih luas melalui penguatan sektor industri dan investasi.
Menurutnya, pertumbuhan industri yang sehat akan memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, berbagai kebijakan yang mendukung investasi perlu terus diperkuat.
Gigih juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi dan sosial di tengah berbagai dinamika yang terjadi.
“Pemerintah Provinsi Jawa Timur cukup baik dalam menjaga kestabilan ekonomi dan sosial. Ke depan, pemberian insentif kepada investor dan kemudahan berusaha perlu terus ditingkatkan agar investasi semakin berkembang,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gigih turut mengapresiasi peran AMA Surabaya sebagai organisasi yang aktif mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan memperkuat jaringan antar pelaku usaha. Menurutnya, program-program yang dilakukan AMA seperti upskilling, transfer pengetahuan, dan penguatan kolaborasi bisnis menjadi modal penting bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dalam jangka panjang.
“AMA telah menjalankan peran yang sangat baik dalam membangun networking, meningkatkan kompetensi pelaku usaha, dan menciptakan optimisme ekonomi. Ini menjadi kekuatan sosial yang penting untuk menjaga iklim usaha Jawa Timur tetap kondusif dan kompetitif,” pungkas Gigih Prihantono.


